Tsunami Susulan Masih Bisa Terjadi, BMKG: Jauhi Pantai Selat Sunda

Irfan Ma'ruf ยท Minggu, 23 Desember 2018 - 03:32 WIB
Tsunami Susulan Masih Bisa Terjadi, BMKG: Jauhi Pantai Selat Sunda

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat jumpa pers di Kantor BMKG, Jakarta, Minggu dini hari (23/12/2018). (Foto: iNews)

JAKARTA, iNews.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan kepada masyarakat dan wisatawan untuk menjauhi pantai-pantai di kawasan Selat Sunda. Pasalnya, gelombang tsunami masih berpotensi terjadi di kawasan ini, menyusul aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih tinggi.

Untuk diketahui, Selat Sunda menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera di Indonesia, serta menghubungkan Laut Jawa dengan Samudera Hindia. Warga diminta untuk tetap menjauhi kawasan Pantai Anyer dan pantai-pantai yang berada di sepanjang Banten hingga Lampung.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat jumpa pers di Kantor BMKG, Jakarta, Minggu dini hari (23/12/2018) mengatakan, data dari Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau juga masih terus mengalami tremor yang diduga menjadi pemicu gelombang tsunami di Selat Sunda, Provinsi Banten dan Provinsi Lampung bagian selatan.

BACA JUGA:

BMKG Pastikan Ombak Besar di Anyer sebagai Tsunami

BMKG: Tsunami Anyer Diduga akibat Longsoran Erupsi Anak Krakatau

Selain itu, dari data BMKG, peringatan gelombang tinggi masih berlaku hingga beberapa hari ke depan di Selat Sunda. Gelombang tinggi berpotensi menimbulkan kerusakan.

“Kami mengimbau masyarakat, jangan mendekati kawasan pantai walaupun tadi tsunami sudah surut. Gelombang tsunami masih berpotensi terjadi. Dengan ketidakpastian ini kita harus save. Mohon dengan sangat jangan kembali dulu ke lokasi pantai, namun tetap tenang. Kami akan terus memantau,” kata Dwikorita.

Dia juga mengatakan, BMKG dan Badan Geologi akan terus berkoordinasi untuk memastikan penyebab gelombang tsunami di Banten dan Lampung Selatan. Dugaan sementara, tsunami disebabkan longsoran material Gunung Anak Krakatau di dalam laut karena aktivitasnya masih tinggi.

“Kita lihat bersama-sama sampai berapa jam ke depan. Besok juga akan kami turunkan tim mengukur dampak tsunami di Banten dan Lampung,” katanya.

BMKG dalam konferensi pers itu juga menjelaskan, alat pencatat gelombang tinggi BMKG merekam, ketinggian gelombang di wilayah Serang saat warga dikejutkan dengan ombak tinggi Sabtu malam pukul 21.27 mencapai 0,9 meter. Setelah itu juga terjadi gelombang tinggi di Banten mencapai 0,35 meter pukul 21.33 WIB. Namun, warga di kawasan Pantai Anyer sebelumnya menyebutkan gelombang mencapai 5 meter.

Selain di Banten, gelombang tinggi juga terjadi di Lampung. Pada pukul 21.35 WIB, ketinggian gelombang mencapai 0,36 meter dan 0,28 meter pada pukul 21.53 WIB.


Editor : Maria Christina