21-22 Mei 2019 Dinilai Ingatkan pada Peristiwa Malari 1974 dan Reformasi 1998

Mohammad Yamin ยท Sabtu, 25 Mei 2019 - 19:58 WIB
21-22 Mei 2019 Dinilai Ingatkan pada Peristiwa Malari 1974 dan Reformasi 1998

Aksi demonstrasi memprotes dugaan kecurangan Pemilu 2019 pada 21-22 Mei 2019. (SINDOphoto).

JAKARTA, iNews.id - Pengusutan di balik kasus kerusuhan aksi demonstrasi 21-22 Mei 2019 dapat dimulai dari menyelidiki secara lebih dalam kasus penyelundupan senjata M4 dan penemuan mobil ambulans berlogo Partai Gerindra. Polisi harus mencari sebanyak-banyaknya jejak forensik.

"Polisi juga harus menyelidiki soal ambulans itu. Pengusutan kasus ini harus serius," ujar Profesor Riset Bidang Perkembangan Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hermawan Sulistyo di Jakarta, Sabtu (25/5/2019).

Dia mengungkapkan, pola kerusuhan kemarin mengingatkannya dengan kerusuhan Malari 1974, Reformasi 1998. Di mana kerusuhan timbul akibat krisis politik atau ketidakpuasan terhadap pemerintah. Namun, kali ini kerusuhan tidak hanya karena luapan emosi rakyat.

"Cara jalanan ini dibuat supaya ada trigger, supaya ada trigger untuk punya dampak politis lebih besar. Pada kasus yang sekarang ini adalah pengondisian lingkungan politis dari awal seperti tudingan pemilu curang, segala macam, terutama dengan hoaks," ucapnya.

BACA JUGA:

Pemakaman Korban Kerusuhan 22 Mei Diwarnai Isak Tangis Keluarga

Muhammadiyah: Aparat Keamanan Jangan Bertindak Represif

Menurutnya, istilah people power yang digunakan kelompok politik untuk menggerakan massa tidak memiliki landasan yang bersifat objektif. Kerusuhan pada 21-22 Mei dinilai karena kolaborasi antara seruan people power dan pengondisian penumpang gelap yang dalam istilah akademiknya disebut free riders atau fellow travelers.

"Harus dipahami oleh masyarakat, people power itu enggak bisa hanya sebagian masyarakat yang merasa kalah dalam pemilu, lalu people power. Itu kondisi objektifnya harus ada," katanya.


Editor : Kurnia Illahi