225 Petugas KPPS Meninggal, Perindo Minta Pemilu Serentak Dievaluasi

Puspa Puspita ยท Jumat, 26 April 2019 - 10:44 WIB
225 Petugas KPPS Meninggal, Perindo Minta Pemilu Serentak Dievaluasi

Ilustrasi pemilu. (Foto: dok iNews)

JAKARTA, iNews.id – Jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu 2019 yang meninggal terus bertambah. Data yang dihimpun dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), hingga Kamis (25/4/2019) pukul 18.00 WIB, ada 225 petugas meninggal dunia dan 1.470 sakit sepanjang tahap pencoblosan dan perhitungan surat suara.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Umum DPP Rescue Perindo Denny Adin meminta Pemerintah dan KPU untuk mengevaluasi pelaksanaan pesta demokrasi tersebut. Khusunya menyangkut sistem dan teknis kerja dalam gelaran pemilu serentak tahun ini.

“Harapannya ini bisa jadi evaluasi. Karena ini merupakan pemilu terbesar di dunia dan juga paling banyak memakan korban . Kita tahu saat berita ini ditulis, ada 1.695 petugas KPPS yang sakit maupun meninggal dunia tersebar di seluruh Indonesia,” kata Denny Adin saat dihubungi, Jumat (26/4/2019).

BACA JUGA: Petugas KPPS Meninggal Jadi 225 Jiwa, Jatuh Sakit 1.470 Orang

Menurutnya, waktu kerja yang tidak terbatas menjadi pokok evaluasi yang perlu diperhatikan. Sebab, kebanyakan dari petugas KPPS harus bekerja lebih dari 24 jam untuk mengurus penyelenggaran Pemilu Serentak yang rumit dan kompleks.

“Kalau kita evaluasi dari hari pertama pencoblosan di TPS, itu paling lama prosesnya jam 12 malam, paling lama 1 hari atau 24 jam. Dan ini sebenarnya juga tidak normal karena ada Pilpres dan Pileg,” katanya.

Dia mengatakan, tahapan penghitungan yang paling menguras tenaga yakni ketika surat suara mulai dipindahkan dari TPS ke tingkat kecamatan. Di sini, stamina yang prima sangat dibutuhkan bagi setiap petugas penghitung suara.

“Karena plenonya kan dilakukan per desa. Kita tahu jumlah desa di setiap kecamatan sangat banyak, ditambah juga dengan jumlah partai yang hampir 16 sampai 20 parpol,” ucapnya.

Lebih lanjut dia menyarankan agar pihak Pemerintah bersama KPU untuk segera mengkaji pelaksanaan pemilu serentak ke pemilu berbasis teknologi. Dengan begitu, proses pencoblosan dan penghitungan suara bisa lebih cepat dan tidak memakan waktu dibandingkan dengan sistem manual seperti saat ini.

“Mungkin perlu ada jeda enam bulan antara pilpres dan pileg. Atau bisa saja kita mengubah sistemnya seperti negara tetangga Filipina dengan berbasis NIK (Nomor Induk Kependudukan) atau menggunakan finger scan,” tuturnya.

Sekadar informasi, jumlah total KPPS yang bertugas selama Pemilu 2019 sekitar 7,2 juta orang. Saat ini, sudah 225 orang meninggal dunia akibat kelelahan saat bertugas dan 1.470 jatuh sakit, dengan total korban 1.695 orang.


Editor : Donald Karouw