95 % Pengendali Narkoba di Lapas, Polisi: Tahanan Bandar dan Pengedar Dipisah

Antara ยท Kamis, 15 Agustus 2019 - 08:58 WIB
95 % Pengendali Narkoba di Lapas, Polisi: Tahanan Bandar dan Pengedar Dipisah

Ilustrasi narkoba. (Foto: dokumen)

JAKARTA, iNews.id - Dalam pengungkapan kasus narkoba selalu saja ada tahanan di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas) yang ikut terlibat. Tahanan tersebut bahkan mengendalikan peredaran narkoba meski berada di balik jeruji.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Eko Daniyanto menyebutkan, 95 persen pengendali narkoba ada di Lapas. Dia pun mengusulkan pendirian lapas khusus narkoba kepada Direktorat Jenderal (Ditjen) Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM).

"Kami berikan masukan kepada Dirjen PAS Kumham, bandar dan pengendar jangan disatukan lagi karena akan terjadi transfer ilmu," katanya di Kemang, Jakarta Selatan, usai menghadiri diskusi tentang Refleksi 74 tahun Indonesia merdeka dalam pemberantasan narkoba, Rabu (15/8/2019).

BACA JUGA:

Jejak Sabu Komedian Nunung yang Melibatkan 6 Orang, dari Lapas hingga Kurir

Pemasok Sabu ke Nunung Kendalikan Peredaran Narkoba dari Lapas Bogor

Polisi Tangkap Pengedar Narkoba Jaringan Lapas, 1,57 Kg Sabu Diamankan

Eko mengatakan, pemisahan tahanan bandar dan pengedar penting dilakukan agar di dalam Lapas tidak terjadi transfer ilmu. Ada istilah naik kelas, dari pengguna menjadi pengedar, lalu dari pengedar menjadi bandar.

"Untuk itu perlu dipisah antara pelaku yang barang buktinya besar dengan pengedar yang masih kecil. Pemisahan ini bisa memutus transfer ilmu tersebut," ujarnya.

Eko menambahkan, upaya pemisahan itu merupakan kewenangan Kemenkum HAM untuk menjalankan. Pihaknya telah memberikan masukan untuk menghindari adanya transfer ilmu tersebut.

"Apapun juga harus dihindari jangan ada pengedar yang naik kelas menjadi bandar, atau pengguna jadi pengedar," katanya.

Pihaknya memohon agar Lapas melakukan langkah-langkah pencegahan seperti menerapkan SOP atau standar prosedur di dalam Lapas mulai dari sipir sampai Kalapas.

SOP tersebut dengan melakukan pemeriksaan rutin di dalam Lapas, pada jam kerja sipir maupun Kalapas tidak menggunakan telepon genggam, telepon bisa disimpan dalam satu kotak tertentu, melakukan pemeriksaan secara intensif terhadap barang-barang dan makanan para warga binaan, atau menggunakan alat jammer sinyal HP sehingga penggunaan telepon gengam tidak bisa dilakukan.

"Atau bisa juga menggunakan K-9 (anjing) untuk melakukan pemeriksaan rutin," ujar Eko.

Menurut dia, jika seluruh Lapas di Indonesia menggunakan upaya, maka tidak menutup kemungkinan pengendalian narkoba di Lapas bisa ditekan sebesar 50 persen.

Kasus pengendali narkoba dari balik lapas kembali mencuat setelah pengedar sabu untuk artis Nunung dipasok dua orang tahana di Lapas Paledang Bogor.


Editor : Djibril Muhammad