ACT Bangun Hunian Sementara untuk Korban Gempa Maluku

Antara ยท Rabu, 09 Oktober 2019 - 14:26 WIB
ACT Bangun Hunian Sementara untuk Korban Gempa Maluku

Relawan ACT memeriksa kesehatan pengungsi korban gempa Maluku. (Foto: ACT)

JAKARTA, iNews.id – Lembaga kemanusiaan nirlaba Aksi Cepat Tanggap (ACT) berencana membangun selter atau hunian sementara bagi para korban gempa bumi di wilayah Provinsi Maluku. Hingga kini, para korban masih mengungsi dengan kondisi cukup memprihatinkan.

“Kami akan terus melanjutkan berbagai skenario program dari tahapan emergency, recovery, hingga konstruksi,” tutur Ketua Dewan Pembina ACT Ahyudin saat konferensi pers bertajuk #MalukuMemanggilmu di Menara 165 Jakarta, Rabu (9/10/2019).

Melihat kondisi saat ini yang sebentar lagi memasuki musim hujan, ACT mengkhawatirkan tenda-tenda pengungsi tersebut tidak efektif dan laik untuk dijadikan hunian sementara atau penampungan. Apalagi, kata dia, bisa saja selama satu tahun ke depan para pengungsi yang kehilangan rumah, harta benda bahkan anggota keluarga tersebut belum memiliki rumah yang bisa dijadikan tempat tinggal permanen.

“Sebagai contoh kondisi di Lombok dan Palu sudah setahun berlalu tapi belum kunjung menyeru, ini yang kami khawatirkan juga terjadi di Ambon,” ujarnya.

BACA JUGA: Wiranto Minta Maaf soal Pernyataan Pengungsi Gempa Ambon

Kendati demikian, ACT telah membuktikan diri dengan mendirikan sekitar 7.000 unit rumah dan 133 masjid permanen di Lombok dan Palu. Rencana pembangunan selter atau rumah sederhana tersebut, diakuinya membutuhkan biaya besar sehingga harus banyak pihak terlibat untuk saling membantu korban terdampak bencana alam.

“Biayanya cukup besar, biasanya satu unit itu bisa memakan anggaran Rp50 juta,” ungkap Ahyudin.

Dalam menyikapi bencana alam yang terjadi di sejumlah Tanah Air, penanganan bagi korban tidak cukup hanya dengan memberikan trauma healing atau pemulihan trauma serta bantuan medis saja. Namun, penyediaan tempat hunian laik juga suatu keharusan.

Setelah pemberian logistik, medis, trauma healing dan hunian yang nyaman barulah proses rekonstruksi sekolah, rumah ibadah, pasar serta sarana prasana umum lainnya dilakukan.


Editor : Ahmad Islamy Jamil