Ancaman Gempa Bumi Megathrust 8,7 SR di Jakarta, Ini Penjelasan BMKG

Tri Hatnanto ยท Jumat, 02 Maret 2018 - 17:13 WIB
Ancaman Gempa Bumi Megathrust 8,7 SR di Jakarta, Ini Penjelasan BMKG

Gempa bumi megathrust di Aceh 20114 silam memicu tsunami yang menewaskan ratusan ribu orang. (Foto: HO/AFP)

JAKARTA, iNews.id – Publik kembali dihebohkan tentang potensi gempa bumi megathrust 8,7 skala richter (SR) di Jakarta. Disebut-sebut gempa bumi itu setara gempa Aceh tahun 2004 yang memicu tsunami.

Pemberitaan tentang potensi gemba bumi megathrust 8,7 SR di Jakarta awalnya muncul dari diskusi yang diselenggarakan Ikatan Alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (IKAMEGA) dengan Pemprov DKI. Diskusi ini bertujuan  untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi terkait ancaman gempa bumi di Jakarta.

Berita tentang potensi gemba bumi megathrust 8,7 SR di Jakarta itu akhirnya memicu kekhawatiran publik. Melihat perkembangan yang terjadi, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati memberikan penjelasan atas informasi tersebut.

Menurutnya, wilayah Indonesia terletak di zona pertemuan lempeng tektonik aktif, sehingga rawan gempa bumi. Oleh karena itu,  pemerintah, didukung para pakar gempa dari beberapa perguruan tinggi, lembaga/kementerian termasuk BMKG, telah menerbitkan buku Peta Sumber dan Bahaya Gempabumi Indonesia tahun 2017 sebagai salah satu upaya dan langkah mitigasi gempa bumi di Indonesia.

“Peta tersebut merupakan pedoman untuk mendesain konstruksi bangunan di daerah rawan gempa bumi, dengan mempertimbangkan percepatan tanah akibat perambatan gelombang gempa,” ujar  Dwikorita dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (2/3/2018).

Peta tersebut diterbitkan bersama buku dengan judul yang sama. Di dalam buku diinformasikan, berdasarkan hasil kajian para pakar gempa bumi, zona tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, yang menunjam masuk ke bawah Pulau Jawa disebut sebagai zona megathrust, dan proses penunjaman lempeng tersebut terjadi dengan laju 60-70 mm per tahun.

Selanjutnya, menurut analisis para pakar gempa bumi, gerakan penunjaman lempeng tersebut memungkinkan dapat mengakibatkan gempa megathrust dengan kekuatan  maksimum yang diperkirakan dapat mencapai 8,7 SR.

Maka, IKAMEGA berinisiatif menyelenggarakan diskusi dengan Pemprov DKI untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi gempabumi tersebut.

“Jadi sebenarnya diskusi tersebut dirancang untuk kalangan terbatas, antara para pakar dan pemegang kebijakan karena membahas hal yang cukup sensitif, namun urgen untuk segera dilakukan langkah lanjut,” tuturnya.

Namun, menurut Dwikorita, ternyata ada beberapa tulisan yang beredar viral, yang kurang tepat dalam menyimpulkan diskusi dalam sarasehan tersebut, sehingga dimaknai berbeda oleh sebagian masyarakat.

Dwikorita menjelaskan, meski para ahli mampu menghitung perkiraan magnitudo maksimum gempa di zona megathrust, teknologi saat ini belum mampu memprediksi dengan tepat, apalagi memastikan kapan terjadinya gempa megathrust.

“Kita pun belum mampu memastikan apakah gempa megathrust M 8,7 akan benar-benar terjadi, kapan, di mana, dan berapa kekuatannya,” ujar mantan rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Dwikorita mengatakan, dalam ketidakpastian tersebut, yang perlu dilakukan adalah upaya mitigasi yang tepat, menyiapkan langkah-langkah konkret yang perlu segera dilakukan untuk meminimalkan risiko kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa seandainya gempa benar-benar terjadi. Khususnya dengan menyiapkan kesiapan masyarakat maupun inftrastrukturnya.

Editor : Zen Teguh