BKKBN

Angka Unmet Need Jakarta Hampir Setara Provinsi di Timur Indonesia

Diaz Abraham ยท Kamis, 11 Juli 2019 - 18:02 WIB
Angka Unmet Need Jakarta Hampir Setara Provinsi di Timur Indonesia

Direktur Perencanaan Kependudukan dan Perlindungan Sosial Kementerian PPN/Bappenas, Maliki, di acara seminar nasional bertajuk "Mengurangi Unmet Need KB, Angka Kematian Ibu, Kekerasan Berbasis Gender & Praktik Berbahaya, serta Mencapai Bonus Demograf

JAKARTA, iNews.id, - Angka unmet need atau kebutuhan kontrasepsi/kebutuhan ber-keluarga berencana (KB) yang tidak terpenuhi di Jakarta menunjukkan peningkatan. Angka di Ibu Kota hampir setara dengan wilayah lain di Jakarta.

Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, angka unmet need di Indonesia menyentuh angka 10,6 persen. Namun jika dibedah di tingkat provinsi, presentase peningkatan unmet need di Jakarta sejak 2015 hingga 2017 cukup tinggi.

"Yang agak mengagetkan ada peningkatan unmeet need di DKI Jakarta. Record-nya meningkat dari 2015 hingga 2017 dibanding sebelumnya, menjadi sekitar 15,7 persen dan berada di antara daerah di Indonesia bagaian timur," kata Direktur Perencanaan Kependudukan dan Perlindungan Sosial Kementerian PPN/Bappenas, Maliki, di acara seminar nasional bertajuk "Mengurangi Unmet Need KB, Angka Kematian Ibu, Kekerasan Berbasis Gender & Praktik Berbahaya, serta Mencapai Bonus Demografi dalam Kerangka ICPD dan SDGs 2030" di The Hotel Sultan Jakarta, Jakarta, Kamis (11/7/2019).

Maliki menjelaskan, tren kenaikan tersebut terjadi akibat Jakarta tidak siap untuk mengatasi masalah urbanisasi yang terjadi sejak zaman dulu. Perpindahan masyarakat dari desa ke kota tersebut berakibat pada peningkatan penduduk yang signifikan serta perumahan cukup padat di beberapa wilayah.

Disparitas tiap provinsi di Indonesia terkait masalah unmet need ini juga terjadi Indonesia bagian timur seperti Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku Utara. Maliki mengungkapkan bila masyarakat dari kelas ekonomi menengah memiliki presentase unmet neet terendah dibanding lainnya.

"Kita juga melihat angka presentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet need) menurun, tapi kalau perhatikan lebih lanjut dari sisi ekonomi, justru tingkat ekonomi tinggi memiliki tingkat prefalensi cukup tinggi sementara middle, ini yang paling rendah. Dan apa yang kita fokuskan pada lowest dan second sebenarnya ada penurunan, tapi masih relatif tinggi," kata dia.

Fenomena unmet need ini, kata dia, sebenarnya bersifat multidimensional karena dipengaruhi berbagai faktor seperti karakteristik demografi, sosial ekonomi, sikap, dan akses dan kualitas pelayanan. Selain itu alasan kesehatan dan religiusitas turut berperan dalam kejadian ini.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Dwi Listyawardani menyebutkan, angka unmet need di Indonesia mencapai angka 5,5 juta pasangan bila dikonversikan dengan jumlah pasangan usia subur yakni 51 juta.

Data tersebut menjadi pekerjaan pemerintah dalam mewujudkan target nol unmet need KB, nol kematian ibu dan anak, dan nol kekerasan pada perempuan, termasuk pernikahan di bawah umur atau pernikahan anak.


Editor : Zen Teguh