Bamsoet: Alumni Program Persahabatan Indonesia-Jepang Harus Terus Perkuat Kemitraan

Irfan Ma'ruf ยท Sabtu, 14 Desember 2019 - 12:52 WIB
Bamsoet: Alumni Program Persahabatan Indonesia-Jepang Harus Terus Perkuat Kemitraan

Ketua MPR Bambang Soesatyo saat menghadiri Munas Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia-Jepang Abad 21 di Jakarta, Sabtu (14/12/2019). (Foto: iNews.id).

JAKARTA, iNews.id - Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) menilai Jepang sebagai negara maju dengan pertumbuhan ekonomi dan bisnis yang cepat menjadi wacana ideal dalam membangun kerja sama pengelolaan ekonomi Indonesia. Terlepas dari aspek ekonomi tersebut, karakter budaya Jepang yang punya visi jauh ke depan juga menjadi daya tarik yang patut ditiru.

Bamsoet menuturkan, Perdana Menteri Jepang era 1984, Yashuhiro Nakasone, merintis misi yang dikenal dengan Nakasone Programme, yakni mengundang pemuda kawasan ASEAN berkunjung ke Jepang selama sebulan. Indonesia setiap tahun mengirim sekitar 150 peserta. Hingga kini alumni program tersebut sudah mencapai 4.000.

Misi diplomatik yang merupakan turunan dari visi besar bangsa Jepang dalam memulihkan hubungannya dengan negara-negara di kawasan ASEAN tersebut terbukti membawa hasil yang signifikan.

”Berkat hubungan baik yang dibangun, hingga kini investasi ekonomi Jepang tersebar ke berbagai negara ASEAN. Bahkan negara-negara ASEAN berlomba menjadi tujuan utama investasi Jepang," ujar Bamsoet dalam Musyawarah Nasional Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia–Jepang Abad 21 (KAPPIJA 21) di Jakarta, Sabtu (14/12/2019).

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini memandang, visi yang jauh ke depan mempunyai arti fundamen dan strategis bagi sebuah bangsa. Sejarah telah menuliskan bahwa Indonesia merdeka juga berkat visi perjuangan kemerdekaan para pendiri bangsa, setelah berabad-abad terkungkung penjajahan.

Kini setelah merdeka, kata Bamsoet, Indonesia masih berjuang mewujudkan visi bangsa sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan dilandasi karakter bangsa yang kuat dalam memegang teguh ideologi Pancasila dan ditunjang pelaksanaan roda pemerintahan yang demokratis, pelaksanaan visi menjadi landasan penting bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi setiap tantangan global.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menambahkan, penting untuk dicermati bersama, globalisasi yang mengusung ideologi neoliberalisme sangat berdampak bagi bangsa Indonesia, berupa pergeseran tata nilai, ideologi dan budaya. Namun, rasanya tidak adil dan arif apabila melihat globalisasi secara apriori. Demikian juga menerima globalisasi dengan mentah-mentah begitu saja, tanpa perencanaan dan tanpa sikap kritis, juga bukan sikap bijaksana.

"Karena itu, para alumni program persahabatan Indonesia-Jepang yang tersebar di seluruh pelosok, harus senantiasa memperkuat jalinan persahabatan dan kemitraan, serta mengoptimalkan setiap bentuk kerja sama agar bisa menghadapi globalisasi dengan kekuatan kolaborasi," tutur Bamsoet.

Pertemuan KAPPIJA 21, bagi Wakil Ketua Umum SOKSI ini, merupakan wujud titik perjuangan yang melampaui rentang waktu panjang, untuk kembali berkumpul dan bersilaturahmi bersama setelah mengikuti Program Nakasone di masing-masing angkatan. Melalui ikatan silaturahmi yang telah terjalin ini akan semakin menambah kualitas persahabatan dan persaudaraan, demi mewujudkan Indonesia yang semakin baik.

Selain dapat meningkatkan hubungan antarpemerintahan dan antarparlemen, Munas KAPPIJA 21 ini juga diharapkan dapaat mempererat hubungan antar rakyat dengan rakyat (people to people contact). Ke depan, kerja sama dalam pertukaran pengalaman dan pengetahuan di berbagai bidang juga harus berlanjut.

”Saya berharap setiap alumnus program persahabatan Indonesia-Jepang dapat menyinergikan peran masing-masing dalam berbagai profesi guna memajukan bangsa dan negara yang kita cintai," ucapnya.


Editor : Zen Teguh