BMKG: Gempa Merusak Pernah Terjadi di Kalimantan

Antara ยท Senin, 24 Februari 2020 - 05:29 WIB
BMKG: Gempa Merusak Pernah Terjadi di Kalimantan

Ilustrasi gempa. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id – Salah satu alasan pemerintah berencana memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan yaitu karena pulau itu dianggap relatif aman dari ancaman gempa bumi. Akan tetapi, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono mengatakan, Pulau Kalimantan tidak sepenuhnya aman dari gempa bumi.

“BMKG mencatat bahwa gempa merusak pernah terjadi di Provinsi Kalimantan Barat,” kata dia di Jakarta, Minggu (23/2/2020).

Gempa di Kendawangan, Kalimantan Barat, terjadi 24 Juni 2016. Gempa dangkal berkekuatan magnitudo 5,1 itu menyebabkan beberapa rumah rusak di Kecamatan Kandawangan, Kalimantan barat.

Sebelumnya, BMKG mencatat wilayah Kecamatan Ketungau Hilir, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat diguncang gempa tektonik berkekuatan magnitudo 3,5 pada Sabtu (22/2/2020) pukul 22.36.59 WIB. Hasil analisis BMKG menunjukkan, lokasi episenter gempa terletak pada koordinat 0,58 lintang utara (LU) dan 111,33 bujur timur (BT) pada kedalaman 10 kilometer.

Salah seorang warga Dusun Sepan Kebantan, Desa Sungai Deras, Kecamatan Ketungau Hilir melaporkan telah merasakan adanya guncangan gempa sekitar pukul 22.36 WIB. Warga yang belum tidur saat itu sempat panik dan berupaya membangunkan anggota keluarga lainnya untuk segera keluar rumah.

Guncangan yang terjadi diperkirakan mencapai skala intensitas II MMI yang artinya guncangan dirasakan oleh warga meski tidak menimbulkan kerusakan. Guncangan gempa tersebut dicatat dengan baik oleh sensor seismik milik BMKG di Pulau Kalimantan, seperti stasiun seismik KSM, SBM, DBKI, dan BBKI.

Bentuk gelombang dari masing-masing sensor mencatat adanya gelombang P dan S yang secara jelas mencerminkan adanya penyesaran batuan, sehingga gempa itu murni gempa tektonik. “Jika kami perhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya yang dangkal tampak bahwa gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif di daerah Sintang,” kata Daryono.

Gempa yang terjadi di Sintang tersebut adalah gempa kedua setelah sebelumnya setahun lalu. Pada 17 Maret 2019 Kabupaten Sintang juga diguncang gempa dangkal dengan magnitudo 3,1.

“Jika kami mencermati peta geologi Provinsi Kalimantan Barat, tampak bahwa lokasi episenter gempa Sintang berada pada jalur sesar naik. Struktur sesar ini berarah tenggara-barat laut sehingga sangat mungkin peristiwa gempa tektonik yang mengejutkan warga tadi malam memiliki kaitan dengan struktur sesar lokal ini,” kata Daryono.


Editor : Ahmad Islamy Jamil