Butuh Ketegasan Pemimpin Daerah untuk Atasi Banjir Jabodetabek

Rizki Maulana ยท Kamis, 02 Januari 2020 - 21:36 WIB
Butuh Ketegasan Pemimpin Daerah untuk Atasi Banjir Jabodetabek

Warga melintasi banjir yang merendam Kampung Pulo dan Bukit Duri, Jakarta, Kamis (2/1/2020). (Foto: Antara/Nova Wahyudi).

JAKARTA, iNews.id – Cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir di beberapa wilayah Jabodetabek tidak hanya menelan korban jiwa, namun menimbulkan kerusakan dan kerugian ekonomi. Tercatat 62.453 orang mengungsi di 308 titik pengungsian pada 49 kelurahan dan 34 kecamatan di DKI Jakarta, Kamis (2/1/2020).

Kendati telah banyak yang telah mengungsi, tidak sedikit juga warga yang tetap memilih tinggal dan bertahan di rumah mereka untuk menjaga harta benda serta rumah masing-masing. Namun ketika memilih untuk bertahan di rumah, kebutuhan makanan, minuman, air bersih serta pakaian menjadi terbatas.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengharapkan ketegasan para pemimpin daerah dalam mengingatkan masyarakat untuk mengungsi karena prediksi cuaca ekstrem akan terjadi hingga pertengahan Februari 2020.

“Sangat diharapakan ketegasan para pemimpin daerah untuk mengingatkan masyarakat. Harta penting, tetapi nyawa lebih penting,” ujar Doni.

Belajar dari pengalaman di Konawe Utara, kata Doni, bupati dan kepala dinas, camat serta kepala desa memaksa penduduknya untuk evakuasi dan mengungsi sementara. Ketika hujan dan air bah datang, rumah mereka hanyut terbawa arus, namun korban tidak ada.

Tidak hanya pemimpin daerah, Doni juga menegaskan bahwa merupakan tugas media sebagai salah satu komponen Pentahelix untuk terus mengingatkan masyarakat melalui pemberitaan, termasuk mengikuti perkembangan informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kepala BNPB Doni Monardo (kiri). 

Sementara itu Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, analisis BMKG memprediksi 5–10 Januari 2020 akan masuk aliran udara basah dari arah Samudera Hindia sebelah barat Pulau Sumatera di sepanjang ekuator. Ini akan berdampak meningkatnya intensitas curah hujan menjadi lebih ekstrem, sehingga masih akan berpotensi hujan ekstrem di wilayah Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Jambi sampai Lampung, termasuk Jawa, tentunya Jabodetabek.

Kemudian aliran masih berjalan pada 10-15 Januari 2020 akan bergerak ke Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Tenggara. Fenomena ini dapat meningkatkan kembali intensitas curah hujan dan merupakan siklus, yang diprediksi terjadi lagi di akhir Januari sampai awal Februari (jangka waktu sekitar 3-5 hari) dan akan terulang lagi pada pertengahan Februari.

“Siklus ini perlu diantisipasi sejak dini dan dipersiapkan mitigasinya,” ucap Dwikorita.

Doni mengimbau bagi masyarakat yang berada di tempat relatif rendah atau dulu pernah menjadi kasawan penimbunan harus terus diwaspadai karena air akan kembali mencari tempat semula. Untuk yang tinggal dekat daerah aliran sungai diusahakan jangan ada di rumah dan mengikuti arahan tim evakuasi untuk mengungsi di posko yang telah tersedia.

Editor : Zen Teguh