Cerita Pembebasan 15 Nelayan Indonesia yang Ditangkap Malaysia, KKP Sempat Negosiasi Alot

Rizki Maulana ยท Rabu, 22 Januari 2020 - 03:00 WIB
Cerita Pembebasan 15 Nelayan Indonesia yang Ditangkap Malaysia, KKP Sempat Negosiasi Alot

Tim Ditjen PSDKP Kementerian Kelautan dan Perikanan bernegosiasi dengan petugas Malaysia untuk membebaskan 15 nelayan Indonesia, Minggu (5/1/2020) lalu. (Foto: KKP).

JAKARTA, iNews.id – Pemulangan 15 nelayan Indonesia yang ditangkap Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) tercatat sebagai proses pembebasan tercepat yang pernah dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pembebasan ini dilaksanakan sebelum kapal tersebut diproses ke ranah hukum oleh aparat Malaysia.

Keberhasilan tersebut ditempuh melalui aksi cepat dan negosiasi yang tidak mudah. Direktur Pemantauan dan Operasi Armada, Pung Nugroho Saksono memimpin langsung proses negosiasi tersebut.

Dia pun menceritakan detail langkah-langkah negosiasi yang dilakukan oleh Tim Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP.

Menurut Ipunk, panggilang Pung Nugroho, KM Abadi Indah ditangkap oleh aparat APMM karena dituduh menangkap ikan di wilayah yang diklaim sebagai bagian dari landas kontinen Malaysia pada Minggu, 5 Januari 2020. KM Abadi Indah langsung dibawa ke perairan di barat Pulau Jarak Malaysia untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Saat kapal tersebut dibawa ke Pulau Jarak-Malaysia, kami mendapat notifikasi dari pihak APMM dan secara cepat kami langsung lakukan klarifikasi melalui data hasil pemantauan KM Abadi Indah di Pusat Pengendalian Ditjen PSDKP,” ucap Ipunk, Selasa (21/1/2020).

Seluruh penumpang KM Risvin Pratama Sakti yang tenggelam di perairan Banggai Laut, Provinsi Sulawesi Tengah, berhasil diselamatkan Tim SAR gabungan, Selasa (21/1/2020). (Foto: Antara/Basarnas Palu)

Berbekal data pergerakan KM Abadi Indah melalui Vessel Monitoring System (VMS), Tim Ditjen PSDKP berkoordinasi dengan pihak APMM yang juga menyajikan data tracking melalui Marine Traffic Unit (MTU) dari Kapal Maritim Tugau (Kapal Pengawas APMM).

Proses negosiasi ini berjalan tidak mudah karena APMM mengidentifikasi bahwa KM Abadi Indah melakukan pelanggaran penangkapan ikan di dalam landas kontinen.

BACA JUGA: KKP Bebaskan 15 Nelayan Indonesia yang Ditangkap Aparat Malaysia

Ipunk menjelaskan, bila melihat hasil plotting KM Abadi Indah saat terdeteksi dan ditangkap oleh KM Tugau, posisinya sangat tipis sekali. Namun Tim Ditjen PSDKP berargumen bahwa perbedaan hasil tracking tersebut disebabkan kedua negara belum menyepakati penggunaan metode tracking yang sama sebagai diamanatkan hasil reviu pertemuan kelima dari MoU Common Guideline.

”Selain itu kami juga berargumen bahwa kapal ini drifting secara tidak sengaja,” ucap Ipunk.

Dengan argumentasi tersebut, Tim Ditjen PSDKP kemudian menawarkan opsi request to leave kepada APMM agar KM Abadi Indah dilepaskan dari proses penahanan. Opsi ini memang memungkinkan mengingat adanya skema Common Best Practices (CBP) yang menjadi turunan dari MoU Common Guideline. Namun opsi tersebut tidak langsung diterima oleh aparat APMM.

“Sempat ada kesulitan ketika kami mengajukan request to leave pada APMM karena tracking MTU mereka menguatkan upaya penangkapan yang mereka lakukan,” ujarnya.

Seluruh penumpang KM Risvin Pratama Sakti yang tenggelam di perairan Banggai Laut, Provinsi Sulawesi Tengah, berhasil diselamatkan Tim SAR gabungan, Selasa (21/1/2020). (Foto: Antara/Basarnas Palu)

Sebagai bentuk kehadiran negara dalam melindungi warga negaranya, upaya negosiasi terus dilakukan oleh Tim Ditjen PSDKP agar KM Abadi Indah dapat dilepas. Setelah proses negosiasi yang cukup alot akhirnya pihak APMM bersedia melepas kapal serta seluruh awaknya dengan catatan dilakukan penjemputan oleh aparat Ditjen PSDKP–KKP dan dilakukan penandatanganan form request to leave.

Menurutnya, perkembangan detik-detik negosiasi dilaporkan kepada KKP. Begitu ada hasil baik, Kapal Pengawas Perikanan Hiu Macan Tutul 02 diperintahkan bergerak ke koordinat yang disepakati untuk melakukan penjemputan terhadap KM Abadi Indah beserta 15 awak kapalnya.

Keberhasilan pemulangan, kata Ipunk, tidak lepas dari hubungan baik serta koordinasi antar-aparat kedua negara. Peristiwa ini menjadi pengalaman yang baik dalam penanganan pelanggaran di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia yang sampai saat ini belum disepakati.

“Kami juga harus mengapresiasi sikap kooperatif APMM yang mau untuk berkoordinasi dan menghormati prinsip-prinsip penegakan hukum yang dilakukan di wilayah Unresolved Maritim Boundaries,” tuturnya.

Pembebasan KM Abadi Indah beserta krunya menjadi yang tercepat karena tanpa proses peradilan. Padahal biasanya, pemulangan nelayan Indonesia yang ditangkap otoritas maritim negara lain, dilakukan setelah menjalani proses hukum.

Berdasarkan data Ditjen PSDKP, dalam dua tahun terakhir terdapat 155 nelayan beserta 20 kapal Indonesia yang ditangkap lantaran ilegal fishing. Mereka ditangkap oleh otoritas maritim sejumlah negara, yakni Malaysia, Timor Leste, Myanmar, Thailand, Australia, dan India.


Editor : Zen Teguh

Halaman : 1 2 Tampilkan Semua