Diskusi Pemuda, HMI Singgung Tak Ada Lagi Mimbar Bebas di Kampus

Wildan Catra Mulia ยท Sabtu, 11 Mei 2019 - 12:32 WIB
Diskusi Pemuda, HMI Singgung Tak Ada Lagi Mimbar Bebas di Kampus

Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Saddam Jihad di acara Polemik MNC Trijaya Network bertajuk, Pemuda Mana Suaramu? di Jakarta, Sabtu (11/5/2019). (Foto: iNews.id/ Wildan Catra Mulia).

JAKARTA, iNews.id - Ruang anak muda untuk berbicara dihadapan publik dinilai mulai hilang. Misalnya, saat ini tidak ada lagi mimbar bebas di kampus.

Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Saddam Jihad mengatakan, dia bersama sejumlah organisasi kemahasiswaan yang tergabung di dalam kelompok cipayung tengah mendiskusikan persoalan tersebut. Pendalaman ideologi terhadap anak muda, khususnya mahasiwa perlu dilakukan.

"Ada persoalan kaderisasi kebangsaan yang kemudian di level kampus mulai luntur sebagai contoh apakah ada ruang-ruang mimbar bebas di kampus-kampus. Sehingga anak muda tidak memiliki ruang-ruang publik untuk berbicara," ujar Saddam di acara Polemi MNC Trijaya bertajuk, Pemuda Mana Suaramu? di Jakarta, Sabtu (11/5/2019).

Menurutnya, kampus sekarang lebih banyak diwarnai gerakan hedonisme. Forum-forum kelompok diskusi di kampus saat ini semakin minim. "Ini yang saya kira harus dikaji lebih dalam lagi.

Pada kesempatan yang sama Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Robayatul Kusuma Jaya mengungkapkan, anak muda sekarang lebih benyak mengekspresikan pendapatnya melalui media sosial (medsos). Selain itu dari media sosial banyak informasi yang didapatkan.

"Zaman Orde Baru pemuda dan mahasiswa sering turun ke jalan dengan kondisi ini. Mahasiwa hari ini lebih condong mengutarakan pendapat politiknya melalui media sosial," ungkapnya.

Dia mengatakan, kesempatan bagi anak muda untuk mendapatkan pendidikan politik sangat jarang. Kesempatan tersebut hanya datang setiap pesta demokrasi lima tahunan.

Bahkan, sebagian besar anak muda sekarang apatis dengan persoalan kebangsaan. "Ini menjadi catatan, salah pemuda, mahasiswa atau sistem itu sendiri," katanya.

Editor : Kurnia Illahi