Dubes Mahendra Siregar Mengungkapkan Kunci Kian Eratnya Hubungan Indonesia-AS

Wildan Catra Mulia ยท Rabu, 10 Juli 2019 - 10:20 WIB
Dubes Mahendra Siregar Mengungkapkan Kunci Kian Eratnya Hubungan Indonesia-AS

Simposium sehari bertajuk "Hubungan 70 tahun Indonesia-AS: Sejarah, Kebijakan dan Masa Depan" yang digelar bersama oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington DC, Hudson Institute, dan US Indonesia Society (USINDO) di Washington DC, Selasa, 9 Juli 2019. (Foto: Istimewa)

WASHINGTON DC, iNews.id - Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Amerika Serikat (AS) Mahendra Siregar buka-bukaan soal kunci kemitraan Indonesia dengan AS selama ini yang semakin erat. Dia menungkapkan, kunci itu adalah relasi antarmasyarakat, baik itu mahasiswa dan pelajar serta wisatawan maupun masyarakat luas.

Dia meyakini, kunci tersebut tidak hanya bermanfaat saat ini, tapi juga hubungan Indonesia-AS di masa mendatang. Kedua negara, menurut Mahendra, harus menginvestasikan berbagai upaya guna mendorong komunikasi dan kemitraan yang lebih aktif antara generasi muda atau kaum milenial, sehingga dapat melengkapi dan memperkuat diplomasi tingkat pemerintah.

"Perkembangan dan kemajuan teknologi yang serba cepat dan transparan, membuat komunikasi antarmasyarakat kedua negara tidak lagi ada jarak, baik dari perspektif geografis maupun budaya, sehingga menjadi lebih lugas dan produktif. Kemitraan RI dan AS juga senantiasa didasarkan prinsip kesetaraan di semua aspek", tuturnya.

Hal itu disampaikan Mahendra dalam simposium sehari bertajuk "Hubungan 70 tahun Indonesia-AS: Sejarah, Kebijakan dan Masa Depan" yang digelar bersama oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington DC, Hudson Institute, dan US Indonesia Society (USINDO) di Washington DC, Selasa, 9 Juli 2019.

Mahendra Siregar membuka Simposium sekaligus menjadi salah satu pembicara utama dalam simposium tersebut. Pendapat senada juga disampaikan sejarawan Baskara T. Wardaya.

Dia mencontohkan betapa kedekatan masyarakat kedua negara sudah terlihat sejak lama. Salah satunya adalah kisah menarik yang jarang diketahui publik, yakni saat Allan Broom Savannah dari negara bagian Georgia yang pada Januari 1950 mengirim surat pribadi kepada Presiden Harry Truman agar Pemerintah AS mendukung Indonesia dalam menegakkan kemerdekaan. 

Masih dalam konteks historis, sejarawan dari Ohio State University, Prof. Robert J. McMahon menekankan simpati publik AS pada masa-masa awal perjuangan bangsa Indonesia dalam menegakkan kemerdekaan juga selaras dengan kebijakan Pemerintah AS. 

"Saat Belanda, yang notabene adalah sekutu AS, melakukan aksi militer yang kedua pada tahun 1948 misalnya, AS mengancam tidak akan mengucurkan bantuan Marshall Plan ke Belanda yang perekonomiannya tengah morat-marit, jika Belanda tidak menghentikan aksinya tersebut", katanya. 

Terkait proyeksi kerja sama ke depan kedua negara, Mark Clark, Acting Deputy Assistant Secretary urusan Asia Pasifik Kementerian Luar Negeri AS memastikan evolusi positif kemitraan Indonesia dan AS akan menjangkau banyak aspek. 

"Dalam beberapa waktu terakhir, kita melihat pengembangan bidang-bidang baru seperti dialog kerja sama mengenai ruang angkasa, penanganan mitigasi bencana, kesehatan, terorisme, pencurian ikan di laut dan sebagainya," ujar diplomat senior AS yang fasih berbahasa Indonesia ini.

Menurut Dubes David Merrill, Ketua USINDO, aspek strategis lain yang perlu didorong adalah kerja sama antarparlemen. Seperti, peningkatan frekuensi saling berkunjung, diskusi, dan berbagi pengalaman antaranggota legislatif kedua negara.

Simposium ini membahas aspek historis, sekaligus tantangan maupun peluang serta proyeksi hubungan Indonesia dan AS di masa depan. 

Selain Randall G. Schriver, Asisten Menteri Pertahanan AS urusan Keamanan Indo-Pasifik, dan Kenneth Weinstein, Ketua Hudson Institute, simposium ini juga dihadiri berbagai kalangan di AS, mulai dari akademisi, think-tanks, diplomat, pebisnis, wartawan hingga LSM. Sejumlah mantan Dubes AS untuk Indonesia juga tampak hadir.

Simposium  ini digelar dalam rangka merayakan 70 tahun hubungan bilateral RI-AS yang dimulai pada Desember 1949.


Editor : Djibril Muhammad