Eks Komandan Tim Mawar: Selama Ini Saya Diam, Tunggu Waktu yang Tepat

Wildan Catra Mulia ยท Rabu, 12 Juni 2019 - 16:44 WIB
Eks Komandan Tim Mawar: Selama Ini Saya Diam, Tunggu Waktu yang Tepat

Mantan Komandan Tim Mawar, Mayjen TNI (Purn) Chairawan. (Foto: iNews)

JAKARTA, iNews.id – Mantan Komandan Tim Mawar, Mayjen TNI (Purn) Chairawan, mendatangi Bareskrim Polri untuk mengadukan Majalah Tempo terkait dengan pemberitaan media itu tentang peristiwa 22 Mei di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Dia menginginkan adanya tindakan tegas dari aparat kepolisian, karena namanya juga sering disebut sebagai pelaku kejahatan.

“Saya diam selama ini. Saya diam. Saya tunggu waktu yang tepat. Kapan? Setelah polisi sebagai penegak hukum menyatakan bahwa dalangnya si ini si ini. Baru saya laporan. Tapi kok saya diam ini malah muncul di Tempo. Wah ini kalau dibiarin terus ini jangan-jangan... makanya saya laporkan,” kata Chairawan di kantor Bareskrim, Jakarta. Rabu (12/6/2019)

Chairawan juga menyayangkan jika majalah nasional itu menyebutkan bahwa Tim Mawar-lah dalang dari kerusuhan 22 Mei. Menurut dia, jika ada kecurigaan beberapa anggota yang pernah dipimpinnya terlibat dalam kerusuhan, seharusnya media tidak pukul rata terhadap semuanya.

“Nah, Tim Mawar kan udah bubar. Itu kan menyudutkan berarti. Tahun 1999 udah bubar. Kalau pun ada, itu kan personel, anggota. Enggak mungkin satu orang dibilang tim, atau dua disebut tim. Tim itu banyak. Apa pengertian Tim Mawar dan rusuh Sarinah? Dan itu saya lihat di kamus kemarin,” ujarnya.

Chairawan mengatakan, ada empat orang eks Tim Mawar yang dikaitkan namanya oleh Majalah Tempo, tapi malah tidak disebutkan polisi sebagai dalang dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Polhukam kemarin. Hal itu menjadi dasar Chairawan untuk mengambil langkah hukum.

“Tahulah. Itu mau saya tuntut. Karena nuduh sembarangan. Saya harus menghormati polisi. Polisi memang tugasnya, (mengusut) siapa dalangnya ini,” ucapnya.

Di usianya yang semakin menua, Chairawan mengaku tak pernah terbesit dalam pikirannya untuk melakukan kejahatan. “Umur saya 63 (tahun), mau cari apa lagi? Siapa yang membela saya kalau saya melanggar? Jangankan teman-teman saya atau partai saya, pemerintah pun tidak bisa bela saya,” katanya.


Editor : Ahmad Islamy Jamil