Empat Tersangka Kerusuhan Aksi 22 Mei Positif Narkoba

Ilma De Sabrini ยท Kamis, 23 Mei 2019 - 18:46 WIB
Empat Tersangka Kerusuhan Aksi 22 Mei Positif Narkoba

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Muhammad Iqbal. (Foto: iNews.id/Irfan Ma'ruf)

JAKARTA, iNews.id - Serangkaian fakta baru terungkap dari 257 tersangka kerusuhan aksi 22 mei 2019. Fakta pertama adalah, dua tersangka di antaranya diduga terafiliasi ISIS, karena tergabung dalam Kelompok Garis (Gerakan Reformis Islam).

Fakta kedua, empat tersangka di antaranya positif menggunakan obat-obatan terlarang atau narkoba. Demikian disampaikan Kadiv Humas Polri Irjen Pol Muhammad Iqbal saat jumpa pers di kantor Kemenko Polhukam, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (23/5/2019).

"Yang diamankan oleh Polda Metro Jaya yang sudah dirilis Pak Argo ada 257 dan ada empat orang positif narkoba. Gimana mau unjuk rasa kalau pake narkoba," katanya.

BACA JUGA:

Polri Ungkap Dua Tersangka Kerusuhan Aksi 22 Mei Diduga Terafiliasi ISIS

Polisi Tangkap 300 Perusuh Aksi 22 Mei di Bawaslu

Polisi: Uang 2.760 Dolar AS di Bawaslu dari Peserta Aksi Asal Lombok

Nantinya dari fakta itu, kata Iqbal, tidak menutup kemungkinan polisi akan mengembangkan ke kasus lainnya. Saat ini keempat tersangka masih ditahan di Mabes Polri dan akan dimintai keterangan lebih lanjut.

Terkait aksi kerusuhan itu, polisi mengungkapkan ada sejumlah kelompok yang menundangi aksi kerusuhan 21-22 Mei. Sehingga, dia meminta masyarakat untuk tidak turun ke jalan dan tidak mudah terhasut kabar-kabar provokatif.

"Ini akan kita kembangkan, yang lain juga akan kita periksa. Jadi banyak kelompok-kelompok yang menunggangi ini," imbuhnya.

Sebelumnya, Polisi telah menetapkan 257 tersangka dalam kasus kerusuhan 22 Mei 2019. Mereka ditangkap di sejumlah titik di daerah Jakarta.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, para tersangka ditangkap dari tiga tempat, yakni di sekitar Bawaslu, kawasan Petamburan dan Gambir.

Ratusan tersangka itu ditangkap lantaran telah melawan petugas dan melakukan tindak pidana perusakan dan memaksa masuk ke kantor Bawaslu.


Editor : Djibril Muhammad