Hadiri Maulid di Istiqlal, Ma'ruf Amin Nilai Nabi Muhammad Tokoh Perubahan Umat

Antara · Jumat, 22 November 2019 - 01:35 WIB
Hadiri Maulid di Istiqlal, Ma'ruf Amin Nilai Nabi Muhammad Tokoh Perubahan Umat

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menghadiri acara Maulid Akbar dan Doa Untuk Keselamatan Bangsa yang diselenggarakan lembaga dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (22/11/2019) malam. (Foto: Antara).

JAKARTA, iNews.id - Wakil Presiden Ma'ruf Amin menghadiri acara Maulid Akbar dan Doa Untuk Keselamatan Bangsa yang diselenggarakan lembaga dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (22/11/2019) malam. Dalam sambutannya dia menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan figur yang luar biasa.

Dia mengatakan Nabi Muhammad SAW ibarat batu berlian, sementara manusia biasa ibarat batu koral.

"Nabi Muhammad itu manusia tapi bukan kayak manusia biasa. Bahkan Nabi Muhammad itu ibarat batu mutiara sedangkan orang lain kayak batu biasa," kata Ma'ruf di Istiqlal, Jakarta, Kamis (22/11/2019) malam.

Menurutnya, Nabi Muhammad merupakan tokoh perubahan. Islam, kata dia, merupakan agama perbaikan atau agama perubahan.

Dia menilai Nabi Muhammad mampu mengubah umat zaman jahiliyah menjadi umat terbaik.

"NU juga organisasi perubahan, perbaikan. Yang diperbaiki itu agama dan kemasyarakatan. Agama yang diperbaiki NU itu akidah dan cara berpikirnya," ucapnya.

Saat ini, kata dia perubahan yang harus dilakukan, yaitu pemahaman keagamaan supaya lurus dan perubahan kemasyarakatan dalam aspek kehidupan ekonomi, sosial dan pendidikan.

"Makanya Indonesia kita ini visi ke depannya adalah ingin menjadi Indonesia maju," katanya.

Dia menekankan sebagai organisasi perbaikan dan perubahan, NU akan terus mengambil peran dalam perubahan. Perubahan tersebut harus dilakukan secara cepat agar tidak ketinggalan.

Menurutnya, kaidah yang dipegang NU selama ini hanya ada dua, yaitu menjaga yang lama yang baik serta mengambil yang baru yang lebih baik (bertransformasi), harus ditambah satu lagi yakni inovasi.

"Makanya paradigma alon-alon asal kelakon harus sudah ditinggalkan. Sekarang harus sudah serba cepat. Semua serba akselerasi. Perubahan harus cepat, tapi juga harus tepat agar tidak berantakan," katanya.

Editor : Kurnia Illahi