Hujan Es Guyur 5 Desa di Aceh, Begini Penjelasan BMKG

Antara ยท Selasa, 09 Juli 2019 - 06:44 WIB
Hujan Es Guyur 5 Desa di Aceh, Begini Penjelasan BMKG

Hujan es seukuran kelereng mengguyur Aceh (ilustrasi). (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh menyatakan fenomena turunnya hujan es bisa saja terjadi di satu wilayah, meski dalam musim kemarau. Bahkan, hujan es juga bisa turun ketika cuaca bertolak belakang dan memungkinkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

“Ada dua kejadian kemarin saling bertolak belakang, seperti di Aceh Tengah ada hujan es dan di tempat lain timbulnya titik panas,” ucap Kepada Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Aceh, Zakaria Ahmad, di Aceh Besar, Senin (8/7/2019).

Fenomena langka berupa hujan es berukuran sebesar kelereng mengguyur wilayah dataran tinggi di Aceh, yakni di lima dari total 10 desa di Kecamatan Jagong Jeget, Aceh Tengah, Minggu (7/7/2019) siang. Zakaria menyebut fenomena tersebut memang sangat jarang terjadi. Akan tetapi, turunnya hujan es di musim kemarau bukan suatu yang mustahil, mengingat wilayah Aceh Tengah sebagai salah satu daerah dataran tinggi di Provinsi Aceh.

Dia menjelaskan, sangat lazim terjadi hujan es pada satu wilayah dataran tinggi akibat sering mengalami hujan yang bersifat sangat lokal di satu tempat, sedangkan di tempat lain panas terik melanda. “Hujan es biasanya terjadi di satu daerah yang bersifat lokal dan dengan durasi singkat, yakni berkisar antara 7-12 menit saja,” katanya.

Zakaria mengungkapkan, syarat terjadinya hujan es hampir mirip dengan angin kencang puting beliung, yaitu harus diawali dengan keberadaan awan cumulonimbus (Cb) yang sangat rendah di lapisan atmosfer dengan permukaan tanah. Sementara, lapisan paling bawah awan itu memiliki suhu udara sangat dingin.

“Kristal-kristal es ini yang mulai jatuh sebagai hujan, karena dorongan angin kencang dari lapisan awan Cb. Kristal itu tidak sempat mencair akibat di lapisan bawah permukaan awan Cb juga dingin, sehingga butir-butir es tersebut jatuh ke permukaan tanah,” ujarnya.

“Sementara di tempat yang muncul titik panas, tidak mengalami hujan. Dedaunan mulai rontok, semak belukar, hutan dan lahan sudah sangat kering, sehingga mudah terbakar. Baik faktor kesengajaan maupun kelalaian,” ucap Zakaria.


Editor : Ahmad Islamy Jamil