Kala Mega Terisak dan Meneteskan Air Mata Menceritakan Sejarah PDIP

Aditya Pratama ยท Kamis, 10 Januari 2019 - 12:51 WIB
Kala Mega Terisak dan Meneteskan Air Mata Menceritakan Sejarah PDIP

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri terisak dan meneteskan air mata kala menceritakan sejarah partai dalam sambutannya di HUT PDIP ke-46, JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (10/1/2019). (Foto: iNews.id/Aditya Pratama)

JAKARTA, iNews.id - Momen haru sempat mewarnai sambutan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Megawati Soekarnoputri di acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat.

Presiden Indonesia kelima ini sempat terisak dan menitikan air mata saat menceritakan sejarah partainya di hadapan seluruh tamu undangan yang hadir. Dia mengawali cerita di mana saat PDIP masih memakai nama PDI. Megawati memulai cerita saat kejadian Pemilu 1997 yakni jelang hari pencoblosan, dia didatangi perwakilan dari pemerintah.

"Kembali ke dalam ingatan yang lama, kenapa dari PDI menjadi PDI Perjuangan. Kami waktu itu tahun 97, waktu itu ada Pemilu, saya tidak lupa, beberapa hari pencoblosan saya didatangi beberapa orang dari Pemerintah, yang mengatakan kepada saya hak saya untuk dipilih itu ditiadakan. Tapi saya diizinkan untuk memilih," kata Megawati di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (11/1/2019).

BACA JUGA: Hadiri HUT ke-46 PDIP, Jokowi, Ma'ruf dan Mega Kendarai Mobil Golf

Peristiwa tersebut turut membuatnya bingung. Meski begitu dirinya PDI tetap mencoblos partai pada Pemilu 1997.

"Saya pikir waktu itu pada nurut. Saya sampai ditunggu untuk ke tempat coblos. Tapi mungkin sudah jalannya, persis saat (hari) mencoblos, keluarga saya di Blitar ada yang meninggal, dan saya pergi ke sana. Sampai saat penguburan saya tetap ditunggu, waktu itu bukan KPU tapi LPU, dan meminta menggunakan hak saya untuk mencoblos di Blitar. Tapi waktu itu saya mengatakan tidak mungkin, karena harus mengantarkan jenazah sampai pemakaman," ujarnya.

Sontak Megawati mengaku sedih karena kader-kader PDI waktu itu tidak memilih dan membuat suara PDI turun drastis. Pada saat inilah putri Proklamator Indonesia Soekarno menitikan air mata dan terisak.

"Tapi bukan sedih, warga PDI bersorak-sorai. Setelah itu tentu saja, PDI suaranya dikatakan tidak bagus," kata Megawati menceritakan.

Megawati menambahkan, sejarah harus terus diceritakan karena untuk mengingatkan para kader agar mengetahui sejarah PDIP dalam berjuang.

"Sejarah tersebut selalu saya sampaikan. Agar partai ini memiliki ingatan kolektif, dan komitmen tuntaskan tugas sejarah," ujarnya.


Editor : Djibril Muhammad