KPAI Minta Orang Tua Awasi Tontonan Anak

Rizal Bomantama ยท Minggu, 08 Maret 2020 - 06:00 WIB
KPAI Minta Orang Tua Awasi Tontonan Anak

Komisioner KPAI, Retno Listyarti. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta para orang tua di Indonesia mengawasi secara ketat anak-anaknya saat menonton film atau televisi. Imbauan itu disampaikan Komisioner KPAI, Retno Listyarti belajar dari kasus pembunuhan anak lima tahun oleh remaja di Sawah Besar, Jakarta karena terinspirasi film.

Melalui keterangan tertulis yang diterima iNews.id, Sabtu (7/3/2020), Retno mengatakan kasus tersebut menjadi bukti betapa kuatnya pengaruh audio dan visual terhadap anak. Menurutnya tayangan film dan televisi yang bersifat audio visual berdampak besar bagi anak-anak yang belum memiliki referensi kuat.

"Anak adalah peniru ulung dari apa yang dia lihat. Meski hal itu tak menjadi faktor tunggal, karena bisa juga dipengaruhi lingkungan," ujar Retno.

Retno menduga pelaku berasal dari kondisi keluarga yang tidak bahagia karena menunjukkan perilaku delinkuen atau hal-hal yang menyalahi norma dan hukum. Kondisi yang tidak bahagia itu membuat anak-anak mencari kompensasi di luar keluarga untuk memecahkan kesulitan batinnya.

Lebih lanjut, kasus ini menurut Retno menjadi bukti bahayanya konsumsi tayangan televisi atau film oleh anak tanpa pendampingan orang tua. Karena anak akan menelan mentah-mentah apa yang diterimanya dengan pertimbangan dan pemahaman yang belum matang.

"Mereka cenderung akan meniru apa yang menurutnya keren. Di sini pentingnya pendampingan dan pengawasan terhadap anak-anak saat menonton tayangan audio visual," ujarnya.

Retno menegaskan kesalahan yang dilakukan anak tidak berdiri sendiri, tetapi juga dipengaruhi tidak pekanya orang dewasa di lingkungan sekitarnya. Menurutnya tanda-tanda masalah dalam jiwa anak dapat dilihat dari perilaku yang suka menyakiti hewan dan dari gambar serta tulisan yang dibuat anak.

Pihak sekolah juga seharusnya peka melihat masalah yang mungkin sedang dihadapi anak. Dan membantu anak menemukan potensi dan kesukaan untuk mengeluarkannya dari perasaan tertekan.

"Pihak sekolah, seperti wali kelas dan guru bimbingan konseling semestinya memiliki kepekaan untuk menangkap perilaku delikuen si anak sehingga dapat menolongnya mendapatkan bantuan psikologis," kata Retno.

Editor : Rizal Bomantama