KPK Telusuri Aset Milik Nurhadi di SCBD

Raka Dwi Novianto ยท Kamis, 09 Juli 2020 - 21:35 WIB
KPK Telusuri Aset Milik Nurhadi di SCBD

Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (20/2/2020). (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - KPK hari ini, Kamis (9/7/2020) memeriksa Marketing Office District 8, Wira Setiawan sebagai saksi untuk tersangka kasus suap dan gratifikasi di Mahkamah Agung (MA), Nurhadi. Dalam pemeriksaan itu KPK menelusuri dugaan kepemilikan aset Nurhadi di kawasan Senayan Bussiness District Center (SCBD), Jakarta.

"Penyidik mengonfirmasi mengenai dugaan kepemilikan aset milik tersangka NHD dan istrinya Tin Zuraida serta kantor milik tersangkaRezky Herbiyono (RHE) yang berlokasi di kawasan Sudirman Center Business District 8 (SCBD)," ujar Plt Juru Bicara Bidang Penindakan KPK, Ali Fikri.

Selain memeriksa Wira Setiawan, KPK hari ini juga memeriksa Direktur PT Multitrans Logistic Indonesia, Henry Soetanto. Terhadap Henry, KPK mendalami asal usul sumber uang milik Hiendra Soejonto (HSO).

"Henry Soetanto diperiksa sebagai saksi untuk tersangka HSO, penyidik mengonfirmasi terkait dugaan asal usul sumber uang milik tersangka HSO yang sebagian besar berasal dari PT Multirans Logistic Indonesia (anak perusahaan PT Multicon Indrajaya Terminal)," kata Ali.

KPK juga memeriksa seorang karyawan swasta bernama M Hamzah Nurfalah. Dalam pemeriksaan itu KPK mendalami terkait kepemilikan PT HEI.

"M Hamzah Nurfalah diperiksa sebagai saksi untuk tersangka RHE, penyidik mendalami pengetahuan saksi terkait dengan kepemilikan PT HEI oleh tersangka RHE yang diduga untuk menerima uang-uang dari berbagai pihak," ucapnya.

Untuk diketahui, tim penyidik KPK berhasil menangkap Nurhadi bersama menantunya Rezky Herbiyono (RHE) pada Senin (1/6/2020) malam. Keduanya dibekuk di sebuah rumah di Simprug, Jakarta Selatan.

Dalam penangkapan itu, tim penyidik juga mengamankan istri Nurhadi, Tin Zuraida. Tim juga turut menggeledah rumah yang diduga jadi tempat persembunyian Nurhadi dan mengamankan sejumlah barang bukti.

Dalam kasus suap dan gratifikasi terkait pengurusan perkara di MA itu, KPK telah menetapkan tiga orang tersangka. Ketiga tersangka itu yakni Nurhadi, Rezky Herbiono, dan Hiendra Soenjoto.

Ketiganya sempat dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) alias buron karena tiga kali mangkir alias tidak memenuhi pangggilan pemeriksaan KPK. Ketiganya juga telah dicegah untuk bepergian ke luar negeri. Saat ini, tinggal Hiendra Soenjoto yang belum diamankan.

Nurhadi dijerat sebagai tersangka karena yang bersangkutan melalui Rezky Herbiono, diduga telah menerima suap dan gratifikasi senilai Rp 46 miliar. Tercatat ada tiga perkara sumber suap dan gratifikasi Nurhadi, pertama perkara perdata PT MIT vs PT Kawasan Berikat Nusantara, kedua sengketa saham di PT MIT, dan ketiga gratifikasi terkait dengan sejumlah perkara di pengadilan.

Rezky selaku menantu Nurhadi diduga menerima sembilan lembar cek atas nama PT MIT dari Direkut PT MIT Hiendra Soenjoto untuk mengurus perkara itu. Cek itu diterima saat mengurus perkara PT MIT vs PT KBN.

KPK telah menahan Nurhadi dan Rezky di rumah tahanan (Rutan) Kavling C1, Gedung KPK lama setelah menjalani pemeriksaan intensif sejak pagi tadi. Keduanya bakal mendekam di jeruji besi selama 20 hari ke depan terhitung sejak Selasa (2/6/2020).

Editor : Rizal Bomantama