Mahfud MD: 187 WNI Terindikasi Terorisme Masih di Suriah

Antara ยท Jumat, 10 Januari 2020 - 14:38 WIB
Mahfud MD: 187 WNI Terindikasi Terorisme Masih di Suriah

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD. (Foto: Antara/Puspa Perwitasari).

JAKARTA, iNews.id - Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) mengatakan masih ada 187 warga negara Indonesia (WNI) terpapar terorisme yang masih berada di Suriah. Mahfud menyebut mereka sebagai Foreign Terrorist Fighter (FTF).

Mehfud mengatakan negara wajib mengembalikan mereka ke tanah air. Hal tersebut disampaikan Mahfud usai bertemu Direktur Jenderal Penanggulangan Terorisme Pemerintah Jepang Shigenobu Fukumoto di Kantor Kemenko Polhukam RI, Jumat (10/1/2020).

"Kita punya FTF dan itu banyak yang mesti kita pulangkan, misalnya dari Suriah saja ada 187 orang," kata Mahfud.

BACA JUGA: Polri Bekuk Eks Napi Teroris Algojo ISIS di Suriah, Ini Jejak Aksinya

Dari jumlah tersebut Mahfud mengatakan 31 di antaraya merupakan laki-laki. Sementara sisanya merupakan perempuan dan anak-anak.

Mahfud menjelaskan bahwa hingga saat ini ada 6.000 warga luar negeri yang diidentifikasi oleh negara yang didatangi sebagai teroris atau FTF. Dia mengatakan hal tersebut menjadi masalah bagi banyak negara.

Keberadaan FTF menjadi persoalan di suatu negara sehingga harus dipulangkan ke negara asal. Menurutnya hal tersebut membutuhkan pembahasan secara mendalam dan kerja sama antarnegara.

"Yang harus dibicarakan adalah bagaimana memulangkannya. Kalau dipulangkan berbahaya atau tidak dan sebagainya," kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.

BACA JUGA: 3 Perempuan WNI Ditangkap atas Tuduhan Terorisme di Singapura Sudah Ditemui KBRI

Mahfud mengatakan bahwa pemerintah bekerja keras memulangkan WNI di Suriah. Akan tetapi, harus dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Termasuk mempersiapkan agenda deradikalisme.

"Kalau yang jelas terlibat teroris itu akan diadili di Suriah. Kalau itu silakan karena negara tak bisa mengintervensi hukum di negara lain. Bagi yang bukan nanti dipulangkan ke sini. Kalau dipulangkan ke sini, nanti jadi persoalan atau tidak karena perginya saja tidak pamit," katanya.

Editor : Rizal Bomantama