Media Dinilai Berperan Penting Meredam Isu Hoaks terhadap Pemerintah

Andi Mohammad Ikhbal ยท Sabtu, 24 November 2018 - 01:01 WIB
Media Dinilai Berperan Penting Meredam Isu Hoaks terhadap Pemerintah

Media arus utama dinilai punya peranan penting meredam isu hoaks yang beredar di publik. (Foto: ilustrasi/ist).

JAKARTA, iNews.id - Media arus utama dinilai punya peranan penting meredam isu hoaks yang beredar di publik, termasuk pada kinerja pemerintah. Maka itu, kepercayaan masyarakat terhadap media jangan sampai pudar.

Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Djauhar menilai, di era sekarang arus informasi begitu deras. Di antaranya lewat konten-konten media sosial. Sayangnya, isu yang beredar tak selalu layak untuk dikonsumsi.

"Media sosial ikut bermain dalam pemberitaan, tapi tak menganut prinsip jurnalisme," kata Djauhar dalam diskusi "Empat Tahun Kinerja Pemerintah dan Obyektivitas Pers" di Kopi Politik, Kebayoran, Jakarta, Jumat (23/11/2018).

Dengan banjirnya informasi, masyarakat akan hanyut dalam isu-isu yang sebetulnya tak berlandaskan fakta, bahkan cenderung menjurus pada berita bohong. Di sinilah kewajiban media untuk meluruskannya.

Caranya dengan memilih serta memilah informasi yang sekiranya pantas dan layak untuk publik. Jangan sampai, kabar-kabar kebablasan ini malah jadi berita bagi mereka, dan inilah momen yang ditunggu.

"Para penyebar hoaks menjadi penumpang gelap yang memanfaatkan derasnya informasi," ujar dia.

Media sosial, kata dia, diibaratkan seperti warung kopi. Di mana semua orang bebas menyatakan pendapat serta opininya tanpa ada larangan. Berbeda dengan media arus utama yang dibatasi aturan.

"Ada Undang-Undang Pers, serta ketentuan-ketentuan yang disepakati oleh organisasi wartawan," katanya.

Kaitannya dengan isu hoaks yang menggerogoti pemerintahan Jokowi, apalagi menjelang Pilpres 2019, kata dia, media perlu memberitakan secara obyektif. Bila sebuah prestasi maka berikanlah apresiasi.

Sebaliknya, jika ada hal yang dianggap tak sesuai, sepatutnya dikritisi. Biar masyarakat yang menentukan pilihannya sendiri. Peranan media harus adil, namun tetap akurat dalam pemberitaan.

"Jangan ikut pola pikir massa, ketika satu kubu diagung-agungkan, dan kubu lainnya dengan kinerja apapun tetap dianggap jelek. Media harus fair melihat kondisi ini," ujar Djauhar.

Jika media sudah tidak berimbang dalam menyajikan berita, dia khawatir, publik akan diarahkan pada konten informasi di media sosial. Akibatnya, publik bisa sampai terombang-ambing atas informasi yang beredar.

Editor : Zen Teguh