Menristekdikti: Kasus Perkosaan Mahasiswi UGM Tanggung Jawab Rektor

Antara ยท Sabtu, 10 November 2018 - 16:20 WIB
Menristekdikti: Kasus Perkosaan Mahasiswi UGM Tanggung Jawab Rektor

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir. (Foto: okezone)

JAKARTA, iNews.id – Kasus perkosaan yang menimpa salah seorang mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) mendapat sorotan dari  Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir. Menurut dia, penanganan kasus tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab rektor perguruan tinggi setempat.

“Pelanggaran semua, yang ada di kampus itu, rektorlah yang bertanggung jawab. Intinya begitu. Nah, (kasus) ini terjadi di mana, itu biar mereka yang menelusuri,” kata Nasir di Jakarta, Sabtu (10/11/2018).

Dia mengatakan, rektor memiliki pedoman untuk menindaklanjuti apabila terjadi pelanggaran, baik terkait dengan akademik maupun pidana. Nasir pun mencontohkan, kasus pelanggaran di kampus yang mengakibatkan rektor bertanggung jawab, sebelumnya terjadi di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta terkait dengan kekerasan terhadap mahasiswa hingga meninggal dunia.

Saat itu, Rektor UII Yogyakarta Harsoyo mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawabannya atas kematian tiga mahasiswanya. Menteri Nasir mengatakan, bentuk pertanggungjawaban yang sama juga harus dilakukan oleh rektor UGM, apabila kemudian terbukti terjadi tindak pelecehan seksual oleh dan terhadap warga akademiknya.

“Pada 2016, kejadian kekerasan di UII di Yogyakarta, saya pada saat itu (mengatakan) kalau memang terjadi seperti itu, konsekuensinya rektorlah yang tanggung jawab. Akhirnya apa yang terjadi? Rektor mengundurkan diri. Artinya apa? Ini harus dilakukan,” tegasnya.

Nasir juga mendesak pihak kampus untuk memberikan tindakan tegas kepada pelaku pelecehan seksual sesuai hasil investigasi. Apabila hasil investigasi menyatakan pelanggaran akademik maka penyelesaiannya juga dilakukan secara akademis. Begitu juga, jika hasil investigasi menunjukkan pelanggaran itu tergolong tindak pidana, Nasir meminta kasusnya diselesaikan lewat jalur hukum.

“Pelanggaran apa pun, itu harus ikuti prosedur yang ada. Kalau itu urusan akademik ya penyelesaiannya akademik, kalau urusan pidana selesaikan dengan hukum, yaitu polisi dan pengadilan,” ujarnya.

Sebelumnya, Rektor UGM Panut Mulyono mengatakan pihaknya dapat menyelesaikan kasus dugaan perkosaan yang dialami mahasiswi di kampus itu secara adil, meski tanpa melalui jalur hukum.

“Saya sebagai orang tua itu sejak awal meyakini bahwa UGM mampu menyelesaikan persoalan ini berdasar dengan peraturan-peraturan yang ada di UGM dan kami yakin bisa menghasilkan keputusan-keputusan yang seadil-adilnya,” kata Panut.

Seorang mahasiswi Fisipol UGM menjadi korban pelecehan seksual oleh sesama rekan kuliah kerja nyatanya (KKN) yang juga mahasiswa UGM Fakultas Teknik Angkatan 2014. Peristiwa itu terjadi saat keduanya mengikuti Program KKN di Pulau Seram, Maluku, pada pertengahan 2017. Peristiwa itu diungkap oleh Balairung Press (Badan Pers Mahasiswa UGM) melalui laporan yang diunggah pada 5 November 2018.


Editor : Ahmad Islamy Jamil