Muhammadiyah Minta Warganya Taat Hukum dan Tak Ikut Aksi Massa 22 Mei

Irfan Ma'ruf ยท Minggu, 19 Mei 2019 - 15:38 WIB
Muhammadiyah Minta Warganya Taat Hukum dan Tak Ikut Aksi Massa 22 Mei

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti. (Foto: iNews.id/dok).

JAKARTA, iNews.id, - Warga Persyarikatan Muhammadiyah diimbau tidak mengikuti hiruk pikuk aksi massa 22 Mei 2019. Muhammadiyah mematuhi hukum yang berlaku di Indonesia sehingga warganya mesti menjadi warga negara yang santun, taat hukum, dan mengikuti khittah serta kepribadian persyarikatan.

”Warga Muhammadiyah hendaknya menerima apapun hasil pemilu dan siapapun yang terpilih sebagai presiden-wakil presiden dengan tetap berdasarkan tuntunan amar ma’ruf nahi munkar sesuai paham Muhammadiyah,” kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti dalam keterangan tertulis, Minggu (19/5/2019).

Tidak hanya sebatas warga Muhammadiyah, Mu’ti menegaskan bahwa kepada segenap warga bangsa sudah seharusnya berusaha menjadi warga negara yang baik, mematuhi hukum, dan perundang-undangan.

Muhammadiyah memandang bahwa menyampaikan pendapat secara lisan dan tulisan merupakan hak warga negara yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar. Sepanjang dilaksanakan sesuai dengan undang-undang, aksi massa merupakan wujud partisipasi publik dalam demokrasi yang harus dihormati.

Menyikapi dinamika politik jelang pengumuman hasil rekapitulasi suara Pemilu 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Mei, Muhammadiyah menekankan agar penyelenggara pemilu hendaknya tetap bekerja profesional sesuai dengan undang-undang.

Sebagai lembaga negara yang mandiri, KPU dan Bawaslu harus tetap independen dan adil, tidak boleh tunduk oleh tekanan siapa pun, kelompok, dan lembaga manapun, baik pemerintah, partai politik, maupun aksi-aksi massa.

Di sisi lain, elite politik diminta tidak memperkeruh suasana. Mereka harus menjadi contoh bagi masyarakat dalam berpolitik dengan tetap menempatkan kepentingan bangsa dan negara sebagai hal utama.

”Khusus kepada para elite, hendaknya bisa menjadi teladan bagaimana berbangsa dan bernegara yang sebaik-baiknya dengan tidak memperalat rakyat untuk meraih kekuasaan, jabatan, serta kepentingan pribadi dan golongan,” ujarnya.

Kepada partai politik, para calon legislatif, dan calon presiden-wakil presiden beserta para pendukungnya, Muhammadiyah berharap agar mereka dapat berjiwa besar, legawa, arif, dan bijaksana menerima hasil-hasil pemilu sebagai sebuah kenyataan dan konsekwensi dari kehendak rakyat Indonesia.

Apabila terdapat keberatan terhadap hasil pemilu hendaknya menempuh jalur hukum dan undang-undang dengan tetap mengedepankan dan mengutamakan persatuan dan kerukunan bangsa.

Adapun kepada aparatur keamanan hendaknya bekerja profesional untuk menjaga keamanan masyarakat, bangsa, dan negara dengan tidak bertindak represif dan pre-emptif dengan mengutamakan pendekatan persuasif dan menghindari cara-cara militeristik agar terhindarkan dari bentrokan fisik dan jatuhnya korban jiwa.

”Semua pihak, terutama para tokoh dan pemimpin bangsa untuk duduk bersama dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih melaksanakan musyawarah untuk menemukan solusi terbaik bagi bangsa dan negara. Harus ada jalan keluar terbaik yang bisa diterima semua pihak, bukan zero sum game,” kata dia.


Editor : Zen Teguh