Nama Muncul di Persidangan, Ketua KPK Firli Bahuri: Saya Tidak Pernah Terima Apa pun

Antara ยท Selasa, 07 Januari 2020 - 17:57 WIB
Nama Muncul di Persidangan, Ketua KPK Firli Bahuri: Saya Tidak Pernah Terima Apa pun

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri. (Foto: Antara/Aditya Pradana).

JAKARTA, iNews.id - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menerima apa pun dari orang lain. Selama menjabat kapolda Sumatera Selatan pun tidak pernah menerima pemberian dari pihak lain.

Penegasan Firli disampaikan merespons munculnya nama dia dalam persidangan perkara suap dengan terdakwa Bupati Muara Enim nonaktif Ahmad Yani di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Palembang.

"Saya tidak pernah menerima apa pun dari orang. Keluarga saya pun sudah kasih tahu, jangan menerima apa pun. Jadi, pasti ditolak," kata Firli di Jakarta, Selasa (7/1/2020).

Menurut Firli, selama ini dirinya selalu menolak jika ada pemberian dari orang lain. Sikap yang sama juga diterapkan ketika dia dipercaya memimpin Sumsel.

"Semua pihak yang mencoba memberi sesuatu kepada saya atau melalui siapa pun pasti saya tolak, termasuk saat saya jadi kapolda Sumsel saya tidak pernah menerima sesuatu," ujar Firli.

Sebelumnya, dalam sidang kasus suap 16 paket proyek jalan senilai Rp132 miliar, terdakwa Ahmad Yani menyeret nama Firli.

Namun, kuasa hukum terdakwa, Maqdir Ismail, mengatakan bahwa tudingan bahwa terdakwa penyuap yakni Elvyn MZ Muchtar yang memberikan sejumlah uang kepada Firli semasa menjabat kapolda Sumsel tidak bisa dibuktikan hanya dari penyadapan.

"BAP hanya menerangkan percakapan antara Elvyn dan kontraktor Robi bahwa Elvyn akan memberikan sejumlah uang ke Firli Bahuri, sementara Firli tidak pernah dimintai konfirmasi apakah benar dia menerima uang atau tidak," ujar Maqdir.

Dalam sidang kedua dengan agenda membacakan eksepsi tersebut, Maqdir menegaskan bahwa Ahmad Yani tidak berniat meminta komitmen fee sebesar Rp22 miliar dari kontraktor Robi Pahlevi yang berstatus terdakwa.

Komitmen fee tersebut merupakan inisiatif Elvyn yang mengatur jalannya 16 paket proyek senilai Rp132 miliar, termasuk upaya memberikan 35.000 dolar AS kepada Firli yang saat itu menjabat kapolda Sumsel.

Maqdir menjelaskan, Elvyn memanfaatkan silaturahmi antara Firli dengan Ahmad Yani pada Agustus 2019. Elvyn lantas menghubungi keponakan Firli Bahuri yakni Erlan.

Elvyn lantas memberi tahu bahwa dia ingin mengirimkan sejumlah uang kepada Firli Bahuri.

"Tetapi kemudian dijawab oleh Erlan, "ya, nanti diberitahu, tetapi biasanya bapak tidak mau," kata Maqdir.

Percakapan itu ternyata disadap oleh KPK, kata dia, tetapi KPK justru tidak memberitahu kepada Kapolri bahwa Kapolda Sumsel akan diberikan sejumlah uang oleh seseorang.

"Sepatutnya upaya pemberian uang itu diketahui Kapolri, kan sudah ada kerja sama supervisi antara KPK dan Polri, meski demikian tidak juga terbukti bahwa Kapolda menerima uang itu," ujar Maqdir.

Editor : Zen Teguh