Paradoks Persaingan Usaha Industri

Candra Fajri Ananda ยท Rabu, 16 Oktober 2019 - 18:26 WIB
Paradoks Persaingan Usaha Industri

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Candra Fajri Ananda.

Candra Fajri Ananda
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya

PASAR merupakan mekanisme pertukaran produk (barang/jasa) yang alamiah dan telah berlangsung sejak awal peradaban manusia. Pasar mempunyai bentuk yang berbeda-beda, di mana bentuk pasar dipengaruhi oleh struktur pasar. Struktur pasar yang kompetitif adalah struktur pasar yang ada di dalamnya sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk memengaruhi harga dan jumlah barang di pasar.

Realitanya, pasar tidak dapat berjalan sendiri tanpa ada campur tangan dari pemerintah. Terjadinya kegagalan pasar akibat ketidakmampuan pasar dalam menjalankan fungsinya merupakan alasan utama diperlukannya kehadiran pemerintah.

Seberapa besar intervensi pemerintah sangat tergantung pada kondisi masing-masing negara. Tidak terdapat teori yang secara khusus digunakan untuk memutuskan sejauh apa intervensi pemerintah dalam perekonomian. Kendati demikian, intervensi pemerintah yang melebihi kapasitas bisa menghasilkan hasil yang beragam, seringnya menyebabkan distorsi ekonomi.

Secara tidak langsung, intervensi pemerintah yang berlebih dapat juga berdampak hingga pada persaingan usaha dalam sektor tertentu. Secara teori, persaingan usaha dapat ditelaah melalui penentuan strategi perusahaan dalam bersaing.

Namun, dalam praktiknya, persaingan usaha juga sangat dipengaruhi oleh berbagai kebijakan pemerintah atau kebijakan publik. Sayangnya, dalam perkembangannya tidak sedikit kebijakan yang menyangkut sektor usaha yang diwarnai dengan berbagai kepentingan dari pihak tertentu.

Berkaca pada zaman Orde Baru, persaingan usaha menjadi terdistorsi akibat berbagai kebijakan pemerintah yang menimbulkan terjadinya praktik monopoli dan oligopoli. Pada saat itu kesempatan yang diperoleh oleh industri kecil untuk mendapat akses dan masuk industri dan pasar yang ada sangat minim. Sehingga, hanya para pelaku usaha bermodal kuatlah yang dapat masuk dan menguasai pasar.

Terbatasnya jumlah perusahaan ada di dalam pasar merupakan suatu bukti nyata bahwa perusahaan-perusahaan baru akan sulit untuk masuk ke pasar monopoli maupun oligopoli. Produksi barang dalam pasar monopoli maupun oligopoli menunjukkan biaya rata-rata yang menurun pada berbagai tingkat output.

Perusahaan yang relatif besar akan lebih efisien dibandingkan dengan perusahaan kecil. Setelah monopoli atau oligopoli terbentuk, perusahaan lain yang ingin masuk akan menemui kesulitan karena setiap perusahaan baru akan memproduksi output pada tingkat yang rendah dan oleh karena itu biaya rata-ratanya menjadi relatif tinggi. Adapun salah satu dasar teknik yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk bertahan dalam pasar monopoli adalah pengetahuan khusus mengenai metode produksi berbiaya rendah (low-cost).

Kasus IHT

Tidak sedikit dari industri hasil tembakau (IHT) dalam sepuluh tahun terakhir yang mengalami kebangkrutan karena kebijakan pemerintah maupun kekalahan dalam persaingan. Para pengusaha industri rokok kecil menilai bahwa cukai sudah terlalu tinggi sehingga tidak sepadan dengan biaya produksi yang dikeluarkan.

Jika pemerintah melakukan simplifikasi golongan dan kuota kombinasi, maka para pengusaha rokok berskala menengah-bawah akan “dipaksa” mengikuti cukai dan harga jual produk rokok berskala tinggi. Sehingga, kebijakan simplifikasi golongan dan kuota kombinasi ini menghadapkan pabrik-pabrik rokok pada persaingan yang kian ketat atau keras.


Editor : Zen Teguh

Halaman : 1 2 Tampilkan Semua