PDIP Ajak Anak Muda Berinovasi di Bidang Teknologi

Abdul Rochim ยท Minggu, 18 Oktober 2020 - 21:42 WIB
PDIP Ajak Anak Muda Berinovasi di Bidang Teknologi

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - PDI Perjuangan (PDIP) meminta para insinyur, politisi, akademisi dan teknokrat saling bersinergi untuk mewujudkan Indonesia yang berdikari di bidang teknologi. Indonesia dinilai masih terbelakang dalam hal teknologi.

Menurut Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, hal itu penting agar Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara lain seperti yang disuarakan oleh Proklamator Bung Karno.

Hal ini disampaikan Hasto saat menjadi narasumber di Forum Indonesia Berdikari (FIB) melalui telekonferensi, Minggu (18/10/2020). Hadir sebagai narasumber lainnya, Ketua Umum Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI) Tatang Hernas Soerawidjaja. Adapun pesertanya para insinyur Indonesia dan sejumlah kepala daerah.

"Kita penting untuk menggelorakan seluruh semangat juang kita sebagai bangsa yang begitu besar, bangsa yang begitu kaya, tetapi di dalam capaian-capaian internasional kita, trennya mengalami penurunan. Ini harus ada proses recovery," kata Hasto.

Hasto mencontohkan, dalam capaian teknologi 2015, Indonesia hanya menempati peringkat ke 99 dari 167 negara. "Ini dari konteks strategi culture kita yang masih jauh. Industri pertahanan kita jauh tertinggal, apalagi industri proses yang lain. Dan kita juga di dalam melihat dari Global Innovation Index Ranking, kita juga diurutan 85 dari 129 negara atau ketujuh di ASEAN," tuturnya.

Menurut Hasto, politik industri harus mengacu pada Pancasila yang bercita-cita pada keadilan sosial. Padahal pada 1945, Indonesia sudah punya diksi keadilan sosial yang dalam teori, ilmu tersebut baru populer pada sekitar 1970. Namun, keadilan sosial, demokrasi dan kemanusiaan itu sudah disuarakan oleh para pendiri bangsa, khususnya Bung Karno.

"Di dalam Pancasila ini ada prinsip kesejahteraan. Bung Karno mengatakan, Indonesia merdeka seharusnya tidak ada seorang pun mengalami kemiskinan. Karena itulah oleh kemudian, Pancasila, dalam konteks berbangsa dsan bernegara, diterjemahkan dalam tujuan bernegara," kata Hasto.

Alumnus Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menambahkan, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan bangsa merupakan amanat konstitusi terhadap negara. Budaya Indonesia, lanjut dia, bukan saling mencaci maki satu sama yang lain, tetapi menghormati dan berpikir positif.

Hasto menceritakan ada satu model usaha yang dilakukan oleh pemulung. Cara produksinya cukup sederhana dan tidak menggunakan teknologi tinggi. Namun, hasil yang dilahirkan menambah nilai jual dengan signifikan.

Para pemulung memgumpulkan botol bekas yang harganya apabila dijual ke penampungan mencapai Rp1.000 per kilogram. Namun, karena para pemulung itu melakukan proses manual seperti membersihkan botol dan membuang tutupnya, nilainya menjadi Rp5.000 per kilogram.

Lalu, apabila ada tindakan memisahkan tipe plastik botol dan dikemas dengan bersih maka harganya mencapai Rp8.000.

"Ini dilakukan oleh koperasi pemulung. Apalagi kita berbicara negara, negara yang berdaulat, negara punya keputusan politik, dari koperasi pemulung tadi. Kalau kita imajinasikan itu dilakukan oleh negara yang pas dan tepat kemudian berorientasi pada resources based industry yaitu di mana insinyur-insinyur kita punya komitmen yang sangat kuat, politisinya punya komitmen yang sangat kuat, Menkeunya punya komitmen yang sangat kuat, maka ini akan menjadi sebuah perubahan bagaimana Indonesia berdikari," kata dia.

Editor : Muhammad Fida Ul Haq