Pembatasan Medsos Dinilai Bukan Langkah Tepat Atasi Hoaks

Abdul Rochim ยท Kamis, 23 Mei 2019 - 07:26 WIB
Pembatasan Medsos Dinilai Bukan Langkah Tepat Atasi Hoaks

Ilustrasi, media sosial. (SINDophoto)

JAKARTA, iNews.id - Kebijakan pembatasan akses media sosial (medsos) seperti WhatsApp (WA), Facebook, atau pun Instagram yang dilakukan pemerintah saat ini merupakan langkah mudah dalam mengatasi peredaran hoaks. Namun cara seperti ini dinilai tidak tepat.

Pengamat komunikasi politik dari London School of Public Relations (LSPR) Jakarta Arif Sutanto mengakui tidak mudah untuk menangkal hoaks. Tapi strategi pembatasan yang dilakukan pemerintah berdampak jauh lebih buruk terhadap mereka yang mempunyai kepentingan dengan medsos.

"Saya misalnya beberapa teman jurnalis kontak saya tapi karena ada kesibukan, saya janji akan jawab sore hari tapi sampai malam ini enggak kejawab. Saya kira ada banyak kepentingan lain yang terganggu juga seperti kepentingan bisnis yang juga menggunakan medsos," ujar Arif, Rabu (22/5/2019).

Menurutnya, kebijakan ini relatif bisa diterima dalam jangka pendek, namun pemerintah diminta benar-benar mencermati seberapa efektif kebijakan pembatasan ini dilakukan.

BACA JUGA: Pemerintah Batasi Fitur Foto dan Video Media Sosial

"Bahwa dia efektif untuk membendung hoaks iya, tapi akan menjadi keprihatinan kita semua kalau cara untuk membendung hoaks itu adalah dengan memberangus kebebasan. Ini cara mudah (membatasi hoaks) tapi jelas ini bukan cara terbaik," katanya.

Menurutnya, hal yang lebih penting, yaitu dalam jangka menengah dan panjang yang perlu dilakukan dengan pencerdasan informasi. "Literasi informasi supaya orang aware bahwa validasi informasi itu menjadi penting," ucapnya.

Pernyataan senada disampaikan pengamat komunikasi politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta Emrus Sihombing. Seharusnya pemerintah melakukan analisis dengan melihat siapa pihak-pihak yang menggunakan medsos untuk kepentingan penyebaran hoaks.

"Harusnya itu yang diblokir, jangan semuanya. Kan teknologi bisa mengindentifikasi. Harusnya ini dilakukan secara selektif karena orang yang gunakan WA dan lainnya bisa dirugikan," katanya.

Dia menambahkan, medsos seperti WhatsApp atau Facebook juga bisa dimanfaatkan untuk melakukan kontrahoaks. "Misalnya di grup WA, kan bisa saling mengingatkan satu sama lain. Bisa konfirmasi. Ini yang harusnya dilakukan seleksi, bukan berlaku untuk semuanya," ucapnya.


Editor : Kurnia Illahi