Persentase Menikah Muda Meningkat, Bahaya Stunting Mengintai

Diaz Abraham ยท Kamis, 11 Juli 2019 - 20:05 WIB
Persentase Menikah Muda Meningkat, Bahaya Stunting Mengintai

Seminar nasional bertajuk "Mengurangi Unmet Need KB, Angka Kematian Ibu, Kekerasan Berbasis Gender & Praktik Berbahaya, serta Mencapai Bonus Demografi dalam Kerangka ICPD dan SDGs 2030" di Jakarta, Kamis (11/7/2019). (Foto: iNews.id/Diaz Abraham).

JAKARTA, iNews.id, - Masalah kependudukan tak lepas dari peran wanita sebagai ibu yang akan melahirkan seorang anak. Namun ada tren cukup mengkhawatirkan yakni perempuan yang menikah di usia kurang dari 18 tahun. Hal ini dapat meningkatkan bahaya stunting pada anak.

Direktur Perencanaan Kependudukan dan Perlindungan Sosial Kementerian PPN/Bappenas, Maliki, menuturkan, pada 2016 persentase perempuan menikah di bawah 18 tahun mencapai 22,35 persen. Pada 2017 naik menjadi 22,91 persen.

”Kita perlu cek lagi tahun 2019 di semester akhir. Namun kelihatannya kecenderungan mungkin semakin tinggi. Apalagi kalau kita lihat secara absolut karena mungkin nanti jumlah penduduk semakin tinggi dengan kenaikan presentasi sedikit saja dari sisi absolut masih cukup tinggi,” kata Maliki.

Kecenderungan naiknya persentase itu disampaikan Maliki saat menghadiri acara seminar nasional bertajuk "Mengurangi Unmet Need KB, Angka Kematian Ibu, Kekerasan Berbasis Gender & Praktik Berbahaya, serta Mencapai Bonus Demografi dalam Kerangka ICPD dan SDGs 2030" di The Hotel Sultan Jakarta, Jakarta, Kamis (11/7/2019).

Menikah di usia muda, kata dia, ditakutkan bakal menyebabkan masalah pada anak, misalnya stunting. Hal ini dapat berakibat fatal. Selain tubuh buah hati lebih pendek dibanding teman seusianya, daya saingnya saat dewasa akan berkurang sepertiga dibanding anak pada umumnya.

“Ini (stunting) akan memberikan kontribusi terhadap ketimpangan penduduk tersebut sekitar sepertiga dari masa depannya. Jadi kalu bayi stunting, dia akan secara pasti akan menyimpang. Pendapatan akan relatif lebih rendah dibanding lainnya,” kata dia.

Selain menikah muda, masalah perempuan lainnya adalah kekerasan. Parahnya fenomena ini disebabkan oleh orang di sekitar dan keluarga terdekat seperti suami, kakak, atau paman yang kebetulan tinggal serumah.

Efek terhadap mereka terutama kalau ini terjadi karena memang dari keluarga terdekat, efeknya akan silent. Ini tidak pernah terlihat. Jadi akan terlihat saat akumulatif masalahnya atau saat sudah dewasa, baru bisa melihat efek negatifnya,” ujar Maliki.

Kekerasan juga menyasar pada anak di sekolah terutama kaum hawa. Sama halnya seperti di lingkungan keluarga, kekerasan yang dilakukan oleh guru di sekolah akan membuat anak takut untuk melapor ke orangtua sehingga efeknya akan makin buruk.


Editor : Zen Teguh