Sikapi Rusuh 22 Mei, Katib Aam PBNU: Warga NU Jangan Ikut Merusak Demokrasi

Kastolani ยท Kamis, 23 Mei 2019 - 00:30 WIB
Sikapi Rusuh 22 Mei, Katib Aam PBNU: Warga NU Jangan Ikut Merusak Demokrasi

Katib 'Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf. (Foto: istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) memberikan sejumlah pesan bagi warga NU merespons panasnya perseteruan di masyarakat akibat Pemilu serentak 2019.

Menurutnya, yang harus dilakukan warga NU merespons dinamika nasional dan proses demokrasi di Indonesia yaitu, pertama, warga NU harus mempertahankan kemampuan berdemokrasi secara normal dengan tidak melakukan tindakan yang akan merusak demokrasi tersebut.  

Kemudian, warga NU diimbau tidak melakukan tindakan yang melanggar konsitusi karena hal itu tidak sesuai dengan prinsip kenegaraan. Selanjutnya, menjalankan sistem demokrasi harus diniatkan untuk beribadah sehingga yang muncul adalah rasa ikhlas karena Allah.

“Apa pun hasil dari ikhtiar kita ini harus diterima dengan ridha, jangan sampai kita suul adab (perangai buruk) kepada Allah dengan menggerutui, menolak ketentuan Allah dengan merusak ketentuan Allah, melakukan kerusakan-kerusakan itu merupakan suul adab yang luar biasa,” kata Gus Yahya dalam keterangan tertulisnya, Rabu (22/5/2019).

BACA JUGA: PWNU Minta Masyarakat Tenang Respons Keputusan KPU, Persatuan Bangsa Lebih Utama

Dia mengatakan, agenda Pemilu merupakan momentum warga NU di berbagai dearah untuk mengekspresikan aspirasi politiknya. Hal itu bisa dilakukan warga NU dengan menjadi contoh yang baik di masyarakat, sehingga bisa menjadi bukti kepada dunia luar bahwa demokrasi di Indonesia adalah demokrasi yang beradab dan pelopornya adalah NU.

“Kemudian, mengikuti sistem demokrasi secara adil dan wajar sebagaiman mestinya sehingga kita berharap ini sangat penting khususnya buat kita warga NU, bahwa NU telah sampai pada kematangan seperti ini,” ucapnya.

Terpenting, lanjut Gus Yahya, warga NU harus mampu mengembangkan peran politiknya secara positif. Agar kehidupan berbangsa dan bernegara semakin kondusif tanpa ada kerusuhan yang berdampak buruk untuk bangsa Indonesia.


Editor : Kastolani Marzuki