Tekan Angka Golput, Perindo Komitmen Sosialisasi Pentingnya Hak Pilih

Ilma De Sabrini ยท Sabtu, 23 Februari 2019 - 15:38 WIB
Tekan Angka Golput, Perindo Komitmen Sosialisasi Pentingnya Hak Pilih

Ketua DPP Partai Perindo Wibowo Hadiwardoyo (Foto: iNews.id/Ilma de Sabrina)

JAKARTA, iNews.id - Ketua DPP Partai Perindo Wibowo Hadiwardoyo merespons hasil survei LSI Denny JA yang menyebut masih ada 30 persen masyarakat memilih tidak memberikan hak suaranya pada Pemilu atau golongan putih (golput). Menurut dia, Perindo berkomitmen dalam menekan angka golput pada Pemilu 2019 dengan terus bersosialisasi di daerah-daerah seluruh Indonesia.

“Meskipun di atas tidak begitu ramai tetapi di bawah tetap ramai, ke desa-desa. Partai perindo juga menyosialisasikan pentingnya menggunakan hak pilih di pemilu nanti," kata Wibowo usai acara diskusi Polemik MNC Trijaya Network bertajuk Menjaga Suara Rakyat di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (23/2/2019).

Menurut dia, menyosialisasikan tata cara masyarakat mencoblos bukan hanya tugas Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilu, tetapi juga partai sebagai peserta pemilu. Banyaknya surat suara yang harus dicoblos oleh pemilih mendorong Perindo berinisiatif untuk menyosialisasikan kepada masyarakat.

“Kalau di Perindo ini, kami menjelaskan lebih dalam lagi kepada masyarakat soal kapan pemilu berlangsung dan surat suaranya bagaimana contohnya," ujar dia.

Peneliti LSI Denny JA, Adjie Al Faraby mengatakan, KPU harus gencar melakukan sosialisasi pelaksanaan pemilu pada 17 April 2019, mengingat masih banyak warga Indonesia yang belum tahu tanggal pelaksanaan pemilu.

"Dalam beberapa kali survei di daerah pemilihan hampir rata-rata di bawah 50 persen pemilih yang tahu bahwa Pileg dan Pilpres itu dilaksanakan tanggal 17 April," kata Adjie.

BACA JUGA: TKN Kampanyekan Kinerja Jokowi-JK di Depan Alumnus Sekolah Theresia

Survei yang dilakukan oleh lembaganya itu untuk mengetahui sejauh mana sosialisasi pelaksanaan Pemilu yang sudah dilakukan KPU. Menurut dia, saat ditanyakan kepada publik, banyak masyarakat yang menjawab benar bahwa Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden akan digelar serentak pada April 2019. Namun, mereka selalu salah saat menjawab tanggal hari pencoblosan.

"Jadi masih banyak pemilih yang salah salah menjawab tanggal berapa,” ujar dia.

Selain itu, kata dia, dari hasil survei diperkirakan masih ada 30 persen masyarakat yang memilih golput pada Pemilu 2019. Adjie mengatakan, ada beberapa macam alasan masyarakat memilih golput. Namun, mayoritas masyarakat yang golput karena alasan teknis atau administratif, di samping ada alasan ideologis.

“Ada yang karena alasan politis atau alasan yang ideologis, itu mungkin hanya di bawah 10 persen. Tetapi mayoritas mereka yang golput itu sebetulnya karena alasan yang sifatnya teknis dan administratif,” ujar dia.

Karena itu, Adjie mengingatkan KPU harus bisa memanfaatkan sisa waktu sekitar dua bulan ini untuk memaksimalkan sosialisasi ke masyarakat. Tak hanya KPU, partai politik, caleg, dan kontestan pilpres juga harus menyosialisasikan pelaksanaan pemilu ke masyarakat, terutama kepada calon pemilih di daerah pemilihannya.

"Saya pikir dari partai politik maupun capres harus mendorong betul ya karena ini terkait dengan partisipasi. Ya bagaimana kemudian pemilih bisa merencanakan dan menyiapkan diri untuk bisa datang pada tanggal 17 April," tutu Adjie.


Editor : Khoiril Tri Hatnanto