Wapres JK: Tidak Usah Alergi dengan Kata Syariah

Antara ยท Selasa, 06 Agustus 2019 - 20:18 WIB
Wapres JK: Tidak Usah Alergi dengan Kata Syariah

Wakil Presiden Jusuf Kalla. (Foto: AFP)

JAKARTA, iNews.idWakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan masyarakat untuk tidak merasa “alergi” terhadap kata syariah. Menurut dia, jangan sampai ada yang menganggap seolah-olah segala sesuatu yang berhubungan dengan syariah adalah berbahaya.

“Jangan kita merasa alergi kepada kata ‘syariah’. Syariah itu mudah sekali sebenarnya. Salat (itu) syariah, puasa syariah, bekerja syar’i, mengajar juga syariah. Semua syariah. Jadi jangan merasa syar’i itu tiba-tiba bahaya, tidak begitu,” kata JK di Kantor Wakil Presiden RI, Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Dia menjelaskan, syariah sebenarnya adalah hukum agama Islam berdasarkan Alquran untuk mengatur kehidupan kaum muslim kepada Allah SWT. Karenanya, kata JK, menjalankan hukum syariah bukanlah sesuatu yang harus dipersulit, sama halnya dengan menerapkan ideologi Pancasila.

“Itu suatu hal yang sangat simpel. Jadi, kalau melakukan syariah dan Pancasila, apa salahnya? Jangan terlalu itu dianggap masalah kalau ada orang yang ingin menjalankan syariah itu,” tuturnya.

JK mengatakan, dalam menjalankan kehidupan beragama Islam, selain syariah ada pula akidah (tatanan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah) dan muamalah (tatanan yang mengatur hubungan manusia dengan manusia). JK menegaskan, syariah, akidah, dan muamalah harus dijalankan secara bersamaan sehingga kehidupan beragama umat Islam dapat berjalan baik.

“Kemudian ada muamalah, pada dasarnya halal selama dia tidak haram. Itu syar’i semua. Saya berpakaian begini itu syar’i, selama menutup aurat. Bukan hanya yang pakai jilbab yang syar’i,” ucapnya.

Menanggapi hasil Ijtima Ulama IV yang salah satunya ingin mewujudkan NKRI yang syariah dengan prinsip ayat suci di atas ayat konstitusi, JK mengatakan pertemuan tersebut tidak mewakili pendapat ulama secara keseluruhan.

“Ulama kita banyak. Tentu tidak bisa mengatasnamakan suatu pertemuan bahwa itu pendapat semua ulama, itu tentu hanya ulama yang tergabung dalam organisasi yang mengadakan pertemuan itu,” ujarnya.

Editor : Ahmad Islamy Jamil