5 Tokoh yang Memimpin Negara Setelah Dipenjara

Nathania Riris Michico · Rabu, 16 Mei 2018 - 15:32 WIB
5 Tokoh yang Memimpin Negara Setelah Dipenjara

Patung Nelson Mandela. (Foto: AFP)

JAKARTA, iNews.id - Pembebasan tokoh reformasi Malaysia, Anwar Ibrahim, dari penjara, Rabu (16/5/2018), membuka jalan untuk menjadi perdana menteri. Meski pernah dua kali dijebloskan ke penjara, peluang Anwar menuju kekuasaan terbuka lebar.

Anwar pertama kali masuk bui pada 1999 atas tuduhan korupsi. Pengadilan memvonisnya hukuman penjara enam tahun. Dia kembali divonis bersalah selagi setahun kemudian atas tuduhan sodomi dan divonis sembilan tahun.

Pada 2015, Anwar menjalani hukuman penjara untuk tuduhan sodomi dengan vonis lima tahun. Tapi Anwar mendapat pengampunan dari Sultan Malaysia sehingga dia dibebaskan pada 16 Mei 2018.

Setelah mendapat pengampunan, jalannya menjadi perdana menteri terbuka lebar. Mahathir Mohamad berjanji memberikan jabatannya ke Anwar dalam satu atau dua tahun mendatang.

Tak hanya Anwar sosok tokoh yang bersinar setelah menghirup udara bebas. Berikut lima tokoh dunia lain yang mengambil alih kekuasaan setelah melalui kehidupan getir di penjara.

1. Nelson Mandela

"Tidak ada kekuatan di bumi yang dapat menghentikan orang-orang tertindas, yang bertekad untuk memenangkan kebebasan mereka," kata Nelson Mandela, pada 1961, sebelum dia dinyatakan bersalah karena memimpin perjuangan hak-hak kulit hitam di Afrika Selatan.

Nelson Mandela. (Foto: AFP)

Mandela dijebloskan ke penjara di Pulau Robben yang terkenal kejam. Selama 27 tahun hidup di balik terali besi, dia dikenal dengan perannya sebagai oposan apartheid serta berhasil mengisolasi pemerintahan minoritas kulit putih Pretoria.

Dibebaskan pada 1990, Mandela terpilih sebagai presiden empat tahun kemudian atau di usia 75 tahun. Dia terpilih dalam pemilihan multiras pertama di Afrika Selatan.

2. Aung San Suu Kyi

Aung San Suu Kyi merupakan putri Jenderal Aung San, pemimpin kemerdekaan yang dihormati di Myanmar dan merupakan kepala negara de facto Myanmar. Dia memilih menghabiskan masa muda dengan tinggal bersama keluarga di Oxford, Inggris, daripada melanjutkan warisan ayahnya.

Namun, saat kembali ke Yangon untuk mengunjungi ibunya yang meninggal pada 1988, Suu Kyi tergerak aktif di politik dan menjadi sorotan saat pemberontakan nasional. Namun saat itu dia gagal melawan pemerintahan junta militer.

Aung San Suu Kyi. (Foto: AFP)

Dia menghabiskan masa tahanan 15 dari 21 tahun.

Partai yang diketuai Suu Kyi meraih kemenangan dalam pemilu 2015 serta membuka kesempatan baginya berkuasa. Namun citranya sebagai ikon demokrasi global dinodai oleh kekerasan militer Myanmar terhadap warga Muslim Rohingya.

Bahkan tindak kekerasan ini digambarkan oleh PBB sebagai pembersihan etnis.

3. Jawaharlal Nehru

Jawaharlal Nehru pertama kali masuk penjara di India saat masih dikuasai Inggris pada 1921. Saat itu dia mencoba memboikot kunjungan Pangeran Wales. Namun Nehru justru menganggap hukumannya sebagai hal menyenangkan, karena perlawanan terhadap pemerintahan kolonial menjadi sebuah karya.

Jawaharlal Nehru. (Foto: AFP)

Dia menghabiskan hampir 10 tahun di balik jeruji dengan berbagai dakwaan, antara lain menggerakkan aksi pembangkangan sipil bersama sekutunya, Mahatma Gandhi, yang juga turut dipenjara.

Dia terpilih menjadi perdana menteri pertama India pada 1947. Nehru memegang jabatan itu hingga meninggal atau selama hampir 17 tahun. Sejak kepemimpinannya, terbentuk dinasti Gandhi-Nehru yang mendominasi politik India selama puluhan tahun.

4. Vaclav Havel

Vaclav Havel dikenal sebagai penulis sandiwara yang suka memberontak. Tak heran jika pemerintahan Cekoslovakia saat itu mengincarnya sebagai pembangkang.

Vaclav Havel (Foto: AFP)

Havel masuk daftar hitam dan dijebloskan ke penjara. Setelah bebas namanya justru makin populer hingga mengantarkannya ke kursi kepresidenan dalam Revolusi Velvet. Dia berhasil menggulingkan rezim komunis.

Dengan kecintaannya pada musik Barat, salah satu tindakan pertama Havel saat bekerja adalah mengundang Frank Zappa dan Rolling Stones untuk tampil di Praha. Sebelumnya acara itu dilarang, namun di bawah kekuasaannya, Havel mengubah aturan tersebut.

5. Michelle Bachelet

Michelle Bachelet merupakan presiden perempuan pertama Cile. Dia terjun ke politik karena dibawa oleh ayahnya, seorang mantan pejabat pemerintah yang tewas setelah disiksa di tahanan menyusul kudeta militer 1973.

Michelle Bachelet (Foto: AFP)

Bachelet ditangkap dan menjadi sasaran penyiksaan karena aktivitas politiknya yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Dia diasingkan ke Australia dan Jerman Timur sebelum kembali berkampanye untuk memulihkan demokrasi negara.

Dia pertama kali terpilih pada 2006 dan sempat menjabat dua periode secara tidak berurutan. Bachelet melepaskan jabatan pada 2018 setelah melakukan berbagai kebijakan, antara lain mengurangi pembatasan aborsi dan memperluas pengakuan terhadap hubungan sesama jenis.

6. Anwar Ibrahim

Anwar Ibrahim merupakan tokoh reformasi Malaysia. Pada 1998, saat menjabat sebagai perdana menteri, Mahathir memecat Anwar yang saat itu menjadi wakilnya. Tak hanya itu, Mahathir juga menjebloskan Anwar ke penjara atas tuduhan korupsi dan pelecehan seksual.

Anwar kembali mendekam di penjara pada 2015 saat pemerintahan Najib Razak.

Anwar Ibrahim (Foto: AFP)


Sejak itu, Anwar menggalang kekuatan untuk melawan pemerintahan melalui gerakan reformasi. Anwar pun mendirikan Partai Keadilan Nasional yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Rakyat.

Perjuangan panjang Anwar berbuah manis setelah pada pemilu 2018. Kubu Pakatan Harapan, yang turut dibangunnya, memenangkan kursi parlemen terbanyak. Pakatan Harapan menyudahi dominasi Barisan Nasional yang menguasai pemerintahan Malaysia sejak mendapat kemerdekaan pada 1957 atau lebih dari 60 tahun silam.

Anwar menghirup udara bebas setelah mendapat pengampunan penuh dari Yang di-Pertuan Agoeng Sultan Sulaiman V. Pengampunan ini sekaligus menjadi klimaks perjuangan pria berjuluk Reformis itu sejak 20 tahun lalu.

Namun Anwar masih harus menunggu satu atau dua tahun lagi untuk menggantikan Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri.


Editor : Nathania Riris Michico