Muhammadiyah: Khotbah Idul Fitri Jangan Jadi Ajang Kampanye

Felldy Utama · Rabu, 13 Juni 2018 - 20:47 WIB
Muhammadiyah: Khotbah Idul Fitri Jangan Jadi Ajang Kampanye

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (Foto: Antara/Dok).

JAKARTA, iNews.id – Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid telah menetapkan Idul Fitri 1439 Hijriah jatuh pada Jumat, 15 Juni 2018. Menyambut Hari Kemenangan itu, Muhammadiyah menyampaikan pesan untuk umat Islam di Indonesia.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengimbau umat untuk melaksanakan ibadah-ibadah sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW antara lain membayar zakat fitrah, memperbanyak membaca takbir, dan menunaikan salat Idul Fitri.

Selain itu mengumandangkan takbir di masjid atau musala dengan pengeras suara yang bagus sebagai syiar Islam. ”Dengan tetap memperhatikan kenyamanan lingkungan dan menghormati masyarakat yang berbeda-beda keyakinan,” kata Haedar dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (13/6/2018).

Dia mengatakan, apabila melaksanakan takbir keliling hendaknya dilakukan dengan baik, mematuhi aturan lalu lintas, menjaga ketertiban umum, dan berkoordinasi dengan kepolisian dan aparatur pemerintah yang terkait.

Dia juga berpesan kepada segenap umat Muslim agar menjadikan puasa dan ibadah Ramadan serta Idul Fitri sebagai wahana untuk semakin meningkatkan kualitas iman dan takwa, memperbanyak amal salih, memperluas ilmu pengetahuan, serta mengembangkan sikap dan tindakan yang berakhlak mulia.

“Baik elite maupun warga mari kita tampilkan keteladanan yang baik atau uswah hasanah sehingga kaum muslim di negeri ini menjadi rahmatan lil alamin,” kata Haedar.

BACA JUGA: MUI Imbau Khatib Salat Idul Fitri Jauhi Tema Politik Praktis

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengimbau kepada para khatib dan mubalig agar menyampaikan khotbah dan ceramah yang berisi ajakan agar umat Islam terus berusaha melanjutkan amal salih selama Ramadan dengan lebih baik, meningkatkan ketakwaan dengan berbuat ihsan, meningkatkan soliditas dan solidaritas sosial, serta memelihara kerukunan dan persatuan umat dan bangsa.

“Sampaikan pesan-pesan keislaman yang menyebarkan kedamaian, persaudaraan, kemajuan, dan mencerahkan. Para khatib dan muballigh hendaknya tidak menjadikan khutbah dan ceramah sebagai ajang kampanye dan propaganda politik praktis serta tidak menyampaikan materi yang berpotensi menimbulkan kontroversi dan disharmoni sosial, politik, dan agama baik internal maupun antarumat beragama,” ujar Mu’ti.

Dia berharap masyarakat hendaknya saling menghormati dan bekerjasama untuk terciptanya suasana ibadah yang tenang, aman, dan tertib. Secara khusus Mu’ti menyoroti keberadaan media sosil yang semakin rentan jadi ajang permusuhan dan perpecahan.

Mu’ti mengajak masyarakat untuk dapat menggunakan media sosial sebagai ajang silaturahmi, peduli, berbagi, serta mengembangkan pengetahuan seraya jauhi hal-hal yang menyebabkan kebencian,dusta, dan permusuhan. Langkah ini penting agar kehidupan di masyarakat tetap terjaga dengan damai dan rukun.

“Semua pihak hendaknya menjadikan Ramadan dan Idul Fitri sebagai momentum mengembangkan spirit keadaban dan kemajuan di segala bidang kehidupan menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” kata Mu’ti.


Editor : Zen Teguh