Perjalanan Najib Razak, dari Kalah Pemilu hingga Ditangkap

Nathania Riris Michico ยท Selasa, 03 Juli 2018 - 18:12 WIB
Perjalanan Najib Razak, dari Kalah Pemilu hingga Ditangkap

Najib Razak mewakili koalisi Barisan National saat berpidato usai kalah dalam pemilu Malaysia 2018. (Foto: AFP)

KUALA LUMPUR, iNews.id - Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak ditangkap oleh petugas komisi antikorupsi Malaysia (MACC) di kediamannya, Selasa (3/7/2018). Seperti sudah jatuh tertimpa tangga, sebelum ditangkap, Najib sudah menghadapi berbagai proses hukum bahkan penggeledahan dan mengalami kekalahan dalam pemilu Malaysia.

Najib kalah dalam pemilu Malaysia yang digelar 9 Mei. Komisi Pemilihan (EC) mengumumkan hasil akhir yang menyebut partai yang dipimpin Mahathir Mohamad, Pakatan Harapan, mendapat 113 kursi parlemen pusat. Kemenangan ini menandai berakhirnya kejayaan Barisan Nasional setelah 60 tahun berkuasa.

Kelompok koalisi yang dibangun atas kerja keras Najib pada masa lalu tumbang lagi-lagi dengan keperkasaannya di masa kini. Mahathir pun menduduki posisi perdana menteri di usianya ke 92 tahun.

Tiga hari setelah dinyatakan kalah, Najib memutuskan untuk meninggalkan Malaysia menuju Indonesia. Najib disebut akan menghabiskan waktu selama dua hari untuk berlibur di Jakarta.

Razak bersama sang istri, Rosmah Mansor, disebut memesan tiket penerbangan dari Bandara Sultan Abdul Aziz Shah (Lapangan Terbang Subang) di Selangor menuju Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, untuk jadwal keberangkatan Sabtu (12/5/2018) pukul 10.00 waktu setempat.

Banyak spekulasi yang menyebut Najib hendak melarikan diri dari Malaysia setelah partainya tumbang di Pemilu 2018. Pasalnya, pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Mahathir berjanji menyelidiki skandal keuangan besar-besaran yang melibatkan mantan pemimpin serta para menteri.

Skandal dimaksud yakni skandal korupsi dana negara 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Namun, rencana itu gagal setelah pihak imigrasi Malaysia mengeluarkan pernyataan pelarangan untuk Najib dan keluarga pada Sabtu (12/5/2018) siang.

"Departemen Imigrasi baru saja memasukkan Najib dan Rosmah dalam daftar hitam untuk meninggalkan negara," kata Direktur Jenderal Departemen Imigrasi, Mustafar Ali, kepada AFP.

Najib dilarang meninggalkan negara itu terkait skandal 1MDB. Najib menerima keputusan imigrasi tersebut.

Setelah dilarang ke luar negeri, dia mengundurkan diri sebagai Presiden Partai Organisasi Nasional Malaysia Bersatu (UMNO) serta Barisan Nasional. Keputusan ini terkait tanggung jawab atas kemerosotoan perolehan kursi parlemen Barisan Nasional dalam pemilu 2018.

"Saya sudah membuat keputusan untuk mengundurkan diri sebagai Presiden UMNO dan pemimpin Barisan Nasional secepatnya," kata Najib, dalam jumpa pers.

Hanya sepekan setelah kekalahannya dalam pemilu, puluhan polisi mendatangi kediaman Najib di Taman Duta, Kuala Lumpur, Rabu (16/5/2018) malam. Sebuah truk polisi yang dikenal dengan sebutan ”Black Maria” juga dikerahkan ke lokasi.

Kedatangan polisi hanya beberapa saat setelah Najib menunaikan salat tarawih di Masjid Kampung Baru dekat rumahnya. Spekulasi beredar polisi akan menangkap mantan Presiden UMNO itu.

Polisi menyebut penggerebekan itu untuk mencari barang bukti dugaan korupsi 1MDB yang dikaitkan dengan Najib. Pada saat bersamaan, sepasukan polisi juga dilaporkan mendatangi apartemen mewah Najib di Pavilion Residence Apartment, Kuala Lumpur. Penggeledahan pertama itu berlangsung hingga Kamis (17/5/2018) dini hari.

Dari penggeledahan, polisi menyita 284 kotak berisi tas-tas mahal, jam tangan, perhiasan, hingga uang tunai dalam berbagai mata uang yang ada di tiga kondominium mewah milik Najib.

Beberapa hari kemudian Najib menjalani pemeriksaan di kantor MACC, Selasa (22/5/2018), untuk dimintai keterangan terkait dugaan kasus korupsi 1MDB. Selang dua hari kemudian, MACC kembai memeriksa Najib masih dengan kasus yang sama.

Materi pemeriksaan masih sama yakni terkait tuduhan aliran dana sebesar 10,6 juta dolar AS atau sekitar Rp148 miliar dari rekening anak usaha 1MDB, SRC International, ke rekening Najib pada 2015. Pengusutan kasus ini sebenarnya sudah dilakukan pada 2015, namun dihentikan.

Tak lama istri Najib, Rosmah Mansor, diperiksa MACC pada Selasa (5/6/2018). Rosmah diperiksa di kantor pusat MACC di Putrajaya masih terkait kasus yang sama.

Pada 27 Juni, Kepolisian Malaysia merilis nilai barang-barang yang disita dari kediaman Najib serta tempat lain terkait skandal 1MDB pada Rabu (27/6/2018). Nilai barang yang disita mencapai 910 juta sampai 1,1 miliar ringgit atau antara Rp3,2 triliun sampai Rp3,9 triliun.

Setelah itu, MACC membekukan rekening bank UMNO yang dipimpin Najib pada 29 Juni. Selain itu, 408 rekening bank, baik pribadi maupun institusi, juga dibekukan oleh Satuan gugus tugas (satgas) kasus penyalahgunaan dana publik 1MDB.

Pada hari ini Selasa (3/7/2018), sebelum Najib ditangkap, anak tirinya, Riza Aziz, menjalani pemeriksaan di MACC. Pria 48 tahun itu juga dimintai keterangan terkait skandal 1MDB.

Beberapa jam kemudian Najib ditangkap di Langgak Dua, Kuala Lumpur, Selasa (3/7/2018), sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Penangkapan Najib terkait skandal penyalahgunaan dana publik SRC International, anak usaha dari 1MDB, senilai 10,6 juta dolar AS dan beberapa kasus terkait lainnya.

Dia mendapat kucuran dana sebesar itu ke rekeningnya pada 2015. Terkait kasus ini Najib sudah dua kali diperiksa MACC pada akhir Mei lalu.

SRC dibentuk pemerintahan Najib pada 2011 untuk menggalang investasi asing di sektor energi. SRC awalnya merupakan perusahaan di bawah 1MDB, namun pada 2012 diambil alih oleh kementerian keuangan.

Pengusutan kasus ini sebenarnya sudah dilakukan pada 2015, namun dihentikan.

Selain skandal SRC International, Najib terlibat dalam peyalahgunaan dana 1MDB. Ada laporan yang menyebut aset senilai lebih dari 1 miliar dolar AS dicuri dari rekening 1MDB.

Najib akan dituntut di pengadilan Kuala Lumpur, Rabu (4/7/2018). Dia akan disidang di Kompleks Pengadilan Kuala Lumpur sekitar pukul 08.30 waktu setempat.

Sumber di lembaga antirasuah Malaysia itu mengungkap, Najib akan dijerat dengan pasal kejahatan pelanggaran kepercayaan.

Pria 64 tahun itu dijerat dengan Pasal 409 KUHP Malaysia. Pasal itu berisi, barangsiapa, yang dengan cara apa pun, yang dipercayakan dengan properti, atau dengan penguasaan apa pun atas properti, dalam kapasitasnya sebagai pegawai negeri atau agen, melakukan pelanggaran kriminal atas kepercayaan terhadap properti itu, akan dihukum penjara tidak kurang dari dua tahun dan tidak lebih dari 20 tahun, cambukan, serta denda.


Editor : Nathania Riris Michico