Harun Yahya, Dulu Dipuja kini Dipenjara

Anton Suhartono ยท Kamis, 12 Juli 2018 - 12:00 WIB
Harun Yahya, Dulu Dipuja kini Dipenjara

Adnan Oktar dan para pengikutinya 'anak kucing' (Foto: Facebook)

ISTANBUL, iNews.id - Kepolisian Turki menangkap ulama kenamaan Adnan Oktar atau biasa dikenal dengan nama Harun Yahya. Nama Harun Yahya tentu tak asing di telinga publik, termasuk di Indonesia, atas karya-karya fenomenalnya yang mengaitkan kebesaran Tuhan dengan alam semesta dan ilmu pengetahuan.

Oktar sudah menerbitkan puluhan buku dan film dokumenter mengenai keajaiban penciptaan manusia, alam semesta, serta ilmu pengetahuan.

Namun beberapa tahun belakangan Oktar berubah. Dia kerap tampil didampingi perempuan-perempuan cantik berpakaian seksi yang disebutnya sebagai 'anak kucing'.

Oktar ditangkap pada Rabu (11/7/2018) pagi atas tuduhan penipuan bersama 166 pengikutnya.
Selain itu, dia dituduh menjalankan organisasi kriminal, melanggar pajak, pelecehan seksual, dan undang-undang antiterorisme.

Polisi menyebut, todal ada 235 pengikut Oktar, namun sebagian masih diburu.

Sementara itu kantor berita Anadolu melaporkan, unit kejahatan keuangan kepolisian Turki memasukkan Oktar dalam daftar orang paling dicari. Dia ditangkap saat akan melarikan diri.

Dalam penggerebekan itu turut disita 50 senjata bersama amunisinya. Namun tidak ada perlawanan dalam penangkapan kemarin. Aset miliknya dan 235 pengikutinya juga telah disita pengadilan.

Oktar sempat mengatakan, tuduhan terhadapnya merupakan kebohongan dan didalangi intelijen Inggris.

"Intelijen Inggris telah lama menginginkan operasi ini kepada kami. Utusan dikirim ke Turki dalam hal ini. Permintaan ini disampaikan kepada (Presiden Recep Tayyip Erdogan) selama kunjungannya ke Inggris," kata dia.

Pernyataan Oktar dalam ceramah-ceramahnya belakangan dikecam publik Turki maupun di luar negeri. Ini bukan kali pertama dia ditangkap. Dia pernah menghabiskan waktu di penjara dan rumah sakit jiwa selama bertahun-tahun.

Oktar juga dikenal sebagai penentang teori evolusi dengan menulis buku berjudul "Atlas Penciptaan". Namun dia tak menggunakan nama asli, melainkan nama pena sebagai indentitas pengarang.

Dia juga pernah membuat situs web untuk mengkritik BBC. Di situ dia mengkritik Inggris sebagai negara tempat Darwin berasal.


Editor : Anton Suhartono