Polisi Pakistan Siaga Jelang Eksekusi Mantan PM Nawaz Sharif

Anton Suhartono · Jumat, 13 Juli 2018 - 16:22 WIB

Polisi Lahore berjaga di Bandara Alama Iqbal Lahore jelang kepulangan Nawaz Sharif (Foto: AFP)

LAHORE, iNews.id - Pemerintah Pakistan mengamankan sebagian besar Kota Lahore, Jumat (13/7/2018), terkait rencana kepulangan mantan Perdana Menteri Nawaz Sharif. Dia pulang untuk menjalani vonis penjara 10 tahun terkait korupsi.

Eksekusi Sharif diperkirakan akan memicu amarah para pendukungnya dari Pakistan Muslim League-Nawaz (PML-N). Apalagi vonis itu dijatuhkan menjelang pemilihan umum yang akan digelar 25 Juli.

Baca Juga: Kasus Korupsi, Eks PM Pakistan Nawaz Sharif Divonis 10 Tahun Penjara

Sharif divonis hukuman penjara 10 tahun pekan lalu atas tuduhan korupsi pembelian beberapa properti mewah di London, Inggris. Dia merasa sudah menjadi target untuk dijatuhkan oleh militer. Vonis itu juga dinilainya bermuatan politis.

"Saya sudah tahu itu. Saya akan langsung dijebloskan ke penjara. Saya ingin sampaikan kepada warga Pakistan bahwa saya melakukan ini untuk Anda, berjalan bersama saya, bergandengan tangan dan mengubah nasib bangsa ini," ujar Sharif, dalam tayangan video yang dirilis partai, seperti dikutip dari AFP.

Dalam tayangan itu tampak Sharif duduk di dalam pesawat, namun tak disebutkan kapan direkam.

Pada Kamis (12/7), saudara Sharif yang kini memimpin PML-N, Shahbaz, mengatakan, ratusan pendukung telah ditangkap menjelang kepulangan kakaknya. Dia menyebut tindakan aparat itu sebagai kecurangan terang-terangan menjelang pemilu.

Namun hal itu tak membuat Shahbaz dan para pendukung gentar. Ribuan orang akan berjalan kaki ke bandara Lahore menjemput Sharif dan membawanya pulang.

"Dunia akan tahu bahwa PML-N sudah dijadikan target. Kami akan pergi ke bandara besok, meskipun menghadapi kebrutalan, kami tetap akan damai," ujarnya.

Kepala polisi Lahore Sajjad Hasan Man mengatakan, sebanyak 80.000 polisi disebar di kota itu sejak Jumat pagi. Akses menuju dan dari bandara dibatasi.


Editor : Anton Suhartono

KOMENTAR