Bantu Persalinan, Dokter Ini malah Patahkan Kepala Bayi

Anton Suhartono ยท Sabtu, 11 Agustus 2018 - 06:30 WIB
Bantu Persalinan, Dokter Ini malah Patahkan Kepala Bayi

(Foto: AFP)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

QUETTA, iNews.id - Seorang dokter di Quetta, Pakistan, melakukan kesalahan fatal saat membantu persalinan seorang ibu. Dia memegang kepala bayi dengan posisi salah sehingga membuatnya patah dan meninggal.

Untuk menutupi kesalahannya, pasien dirujuk ke rumah sakit dengan alasan perlu tindakan operasi. Padahal sebelumnya sang dokter mengatakan pasien bisa melahirkan secara normal.

Ayah bayi, Abdul Nasir, dikutip dari Tribune, Jumat (10/8/2018), mengatakan, staf rumah sakit menolak memberikan catatan medis anaknya. Dia pun curiga ada permainan antara dokter dan rumah sakit.

Merasa dicurangi, Nasir membeberkan kejanggalan ini ke media massa hingga kasus ini mencuat. Keluarga pun melayangkan gugatan.

Nasir mengatakan, istrinya dibawa ke klinik pribadi milik dokter Alia Naz Taran untuk bersalin. Dokter memintanya 10.000 rupee Pakistan atau sekitar Rp1,2 juta setelah dipastikan persalinan bisa dilakukan secara normal.

Saat mengeluarkan bayi itulah Alia diduga melakukan kesalahan prosedur sehingga menyebabkan bagian kepala patah. Setelah itu, dokter mengatakan bahwa persalinan harus dilakukan melalui operasi dan dia merujuk pasen ke RS Daerah Quetta. Bayi itu diketahui sudah meninggal saat di klinik. Istri Nasir lalu dibawa ke rumah sakit dan jasad bayi malang itu dikeluarkan melalui operasi.

Nasir membawa kasus ini ke kepala pengadilan Pakistan, gubernur, serta menteri utama negara bagian Balochistan untuk menuntut keadilan.

Seorang sumber mengungkap, kasus ini berjalan alot karena Alia merupakan pejabat, yakni wakil kepala dinas kesehatan kota.

Nasir juga menuduh dokter itu kerap absen dari tugasnya di rumah sakit pemerintah karena lebih mementingkan kliniknya.

Sementara itu, menteri besar Balochistan, Alauddin Marri, memerintahkan jajarannya mengungkap kasus dugaan malapraktik ini.


Editor : Anton Suhartono