Presiden Erdogan ke AS: Tidak Tahu Malu!

Anton Suhartono ยท Sabtu, 11 Agustus 2018 - 19:27 WIB
Presiden Erdogan ke AS: Tidak Tahu Malu!

Recep Tayyip Erdogan (Foto: AFP)

ANKARA, iNews.id - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali menegaskan negaranya tak akan menyerah dengan ancaman Amerika Serikat (AS). Hubungan kedua negara semakin tegang terkait penahanan pendeta Andrew Brunson.

Pada Jumat kemarin, Presiden AS Donald Trump memberlakukan kebijakan tarif baru atas barang aluminium dan baja Turki yang berdampak pada melemahnya nilai mata uang lira terhadap dolar AS.

"Adalah tindakan yang salah untuk membawa Turki berlutut melalui ancaman terkait seorang pendeta," kata Erdogan, di hadapan massa di Kota Unye, Laut Hitam, dikutip dari AFP, Sabtu (11/8/2018).

Baca Juga:

 

2 Menteri Turki Dijatuhi Sanksi AS, Hubungan 2 Negara Makin Tegang

Turki Tak Akan Bebaskan Pendeta AS meski 2 Menterinya Dijatuhi Sanksi

"Saya menyebut Amerika lagi, tidak tahu malu, tidak tahu malu. Anda mengorbankan mitra strategis Anda di NATO untuk seorang pendeta," kata Erdogan.

Dua juga menyerukan kepada seluruh warga Turki agar menjual dolar dan euro demi menaikkan kembali nilai mata uang lira.

Brunson, pemimpin gereja Protestan di Kota Izmir, Aegean, menjadi sorotan di tengah pusaran konflik diplomatik kedua negara, meskipun Ini bukan satu-satunya pemicu yang membuat hubungan Turki-AS memburuk. Ada isu lain, yakni Kurdi serta sosok yang dituduh sebagai aktor kudeta tahun 2016, Fethullah Gulen yang kini tinggal di AS.

Sebenarnya Turki sudah melunak dengan memberlakukan tahanan rumah kepada Brunson dua pekan lalu, setelah dipenjara dua tahun. Namun kondisinya bukan membaik, bahkan justru memicu krisis lebih dalam. Pasalnya, AS terus mendesak Turki membebaskannya.

Wakil Presiden AS Mike Pence menyebut Brunson sebagai korban persekusi agama. Namun Erdogan membantahnya, Turki tak punya masalah sedikit pun dengan kelompok agama minoritas.

Brunson menghadapi hukuman penjara 35 tahun jika terbukti bersalah atas tuduhan dukungannya terhadap kelompok yang dicap sebagai teroris oleh Turki, yakni gerakan yang dipimpin Gulen dan Partai Pekerja Kurdistan (PKK). Dia juga dituduh melakukan mata-mata untuk tujuan politik atau militer.

Kasus Brunson juga membawa hubungan kedua anggota NATO ini berada di titik terendah di era modern. Sebelumnya, kedua negara juga bersitegang soal invasi Turki ke Siprus pada 1974 dan invasi pasukan koalisi yang dimpimpin AS ke Irak pada 2003.


Editor : Anton Suhartono