Wawancara Jubir TKN Arya Sinulingga

Kalau Gongnya Hanya Sandi yang Muncul, Enggak Seru Pertempurannya

Felldy Utama · Jumat, 14 September 2018 - 22:50 WIB
Kalau Gongnya Hanya Sandi yang Muncul, Enggak Seru Pertempurannya

Juru Bicara Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf, Arya Mahendra Sinulingga. (Foto: iNews.id/felldy Utama).

JAKARTA, iNews.id – Kontestasi Pilpres 2019 mempertemukan dua pasangan calon, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno. Meski belum ditetapkan resmi oleh KPU, hawa persaingan mulai tajam.

Presiden Jokowi yang merupakan capres petahana, bersama Kiai Ma’ruf tak luput dari kritik dan ‘serangan’. Berbagai isu dijadikan amunisi oleh lawan, mulai tayangan iklan kinerja pemerintah di bioskop hingga usulan debat menggunakan Bahasa Inggris.

Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Arya Mahendra Sinulingga melihat persaingan antara Jokowi-Ma’ruf dengan Prabowo-Sandi saat ini sebenarnya baru sebatas riak-riak kecil. Dia juga melihat kritikan tentang iklan kinerja Jokowi yang terus dilancarkan kubu Prabowo-Sandi sebagai candaan belaka.

Bagaimana sebenarnya TKN Jokowi-Ma’ruf merespons sejumlah kritikan itu? Apa strategi mereka untuk memenangkan Pilpres 2019? Berikut petikan wawancara dengan Arya Sinulingga di kantor TKN, Gedung High End, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (14/9/2018):

Bagaimana Anda melihat isu-isu yang berkembang saat ini?
Saya melihat bahwa pertempurannya cuma kecil. Jadi belum menunjukkan pertempuran sebenarnya. Tapi mungkin, mungkin, setelah tanggal 23 (masa kampanye dimulai), mungkin muncul. Tapi saya melihat hanya riak-riak saja. Jadi, belum ada isu yang cukup kuat seperti program-program atau apa, belum juga. Di sisi lain saya lihat ini (justru) yang diributkan ayo debat Bahasa Inggris, enggak substansi gitu loh.

Jadi, usulan debat Bahasa Inggris bukan sesuatu yang krusial?
Itu kan canda-candaan, jadi kita lihat itu masih canda-candaan, belum substansi pada bagaimana kita mendapatkan seorang presiden yang memang layak untuk Indonesia gitu. Emang kayak debat di kampus? Ini kan enggak. Ini kan bagaimana menata bangsa. Jadi saya lihat (pertarungan) masih belum karena pak Prabowo-nya belum muncul-muncul juga.

Artinya mengkritisi penguasaan bahasa Inggris Jokowi tidak tepat?
Itu kan cuma gimmick-gimmick lah, gimmick-gimmick dalam proses pemilu yang kita lihat tidak substansi dalam melihat kondisi bangsa. Bangsa Indonesia kan butuhnya bukan itu. Bangsa kita butuhnya apa? Kita ingin membangun bangsa ke depan bagaimana? Jadi bukan gimmick-gimmick yang seperti itu.

Bisa dikatakan Anda belum melihat ada persaingan sesungguhnya antara Jokowi-Ma’ruf dengan Prabowo-Sandi?
Jadi pertempuran belum substansi. Mungkin Pak Prabowo-nya belum muncul kali. Masih Sandi (yang muncul). Kita tahu Sandi yang kadang-kadang suka bercanda. Ya, ini masih bercanda-canda lah kita anggap. Tapi kalau kubu sebelah masih seperti ini terus, bisa kalah kelak nanti.

Bagaimana dengan isu tentang iklan kinerja Jokowi di bioskop?
Seperti saya sampaikan sebelumnya, bahwa soal iklan ini kan masalah bagaimana pemerintah menyampaikan program-programnya dan salah satunya melalui sosialisasi. Justru iklan itu pertanggungjawaban pemerintah kepada publik, tentunya dengan sosialisasi.

Semua lembaga itu punya namanya anggaran sosialisasi. Bentuknya iklan atau apa itu ada. Dan itu adalah pertanggungjawaban apa yang meraka kerjakan selama ini. Nah bentuknya sekarang dibuat dalam bentuk iklan di bioskop. Enggak ada masalah itu, sesuatu yang lumrah karena semua lembaga pasti ada namanya program sosialisasi. Itu pasti ada.

Berarti iklan tersebut tidak menyimpang?
Semua yang diomongkan Pak Jokowi kan karya-karya pemerintah. Artinya, APBN dipakai untuk apa saja, semua yang berkaitan dengan anggaran-anggaran itu apa saja? Hasilnya ini lho, kerjanya Pak Jokowi ini lho, kan gitu. Jadi saya liat enggak (menyimpang), enggak sejauh itu. Justru semua lembaga pasti punya yang namanya sosialisasi.

Beberapa hari terakhir riak-riak mahasiswa mulai bermunculan. Bagaimana tim kampanye Jokowi-Ma’ruf menghadapinya?
Kita lihat bahwa ini riak-riak masih dalam korwil-korwil demonstrasinya. Aksi, silakan. Sekalian saja lah (bilang) mahasiswa pro-Prabowo, gitu kan enak. Ini dikemas dengan idealismenya. Enggak apa-apa, ini kan sah-sah saja. Mau aksi boleh-boleh saja, cuma ditambah embel-embel mahasiswa pro-Prabowo gitu kan, selow. Mahasiswa boleh kok berpolitik, siapa yang melarang? Emak-emak berpolitik tapi bikin tuh emak-emak pro-Prabowo. Kan enak, enggak ada masalah, santai aja. Dan itu kita anggap riak-riak.

Tapi seperti yang saya sampaikan tadi, Pak Prabowo-nya kemana? Itu yang saya tunggu-tunggu terus nih. Kita belum ketemu lawan yang seimbang gitu. Jadi mungkin Pak Prabowo punya strategi sendiri, kita akan lihat. Tapi yang ini (isu-isu belakangan ini) masih kita anggap bercanda semua.

Kalau begitu sejauh ini persaingan pilpres masih tahap wajar?
Tahap wajar saja.

Tentang kelompok-kelompok yang menyampaikan pendapat?
Menyampaikan pendapat silakan, mau aksi kan dilindungi oleh undang-undang asal tidak pakai kekerasan, biasa aja. Batas-batasnya jelas kok. Kita masih dalam negara demokrasi dan saya rasa, kita menjaga semua.

Kembali lagi, kalau Prabowo belum ada dan yang muncul terus Sandi, artinya cukup Erick Thohir saja yang menghadapi?
Wah kalau gongnya yang muncul Sandi doang ya nanti enggak seru pertempurannya. Enggak asyik pemilunya. Nanti kita ketawa-ketawa saja. Nanti bisa jauh menangnya Pak Jokowi, jauh banget.


Editor : Zen Teguh