Perdebatan soal Penggunaan Rok Pendek di Sekolah Uzbekistan

Nathania Riris Michico ยท Minggu, 16 September 2018 - 08:33 WIB
Perdebatan soal Penggunaan Rok Pendek di Sekolah Uzbekistan

Siswa yang mengenakan rok pendek di Uzbekistan. (Foto: Pinterest)

TASHKENT, iNews.id - Menteri pendidikan Uzbekistan membela guru perempuan yang dituduh mengenakan rok yang tidak pantas di kelas.

Hal itu dia ungkapkan di acara bincang "International Press Club" di TV 24 Uzbekistan. Acara itu menuding beberapa guru dan siswa berpakaian 'sesuka hati' dan berisiko menggoda remaja untuk menatap tubuh mereka daripada mengikuti pelajaran.

Reporter acara tersebut dikirim ke sekolah-sekolah di ibu kota, Tashkent, dan merekam para guru dan siswa perempuan yang mengenakan pakaian yang akan dianggap biasa saja di jalanan kota bahkan di negara yang relatif konservatif ini.

"Lihatlah pakaian guru ini, yang seharusnya menjadi teladan bagi anak-anak. Apakah boleh mengajar dengan pakaian seperti itu?" tanya sang wartawan.

Berbagai tokoh masyarakat pun angkat bicara. Mereka menentang kurangnya etika berpakaian itu di program acara tersebut, termasuk seorang medis yang memperingatkan pakaian ketat dapat menyebabkan infertilitas.

Salah satu tamu dalam program itu, Menteri Pendidikan Sherzod Shermatov, mengatakan panduan seragam sekolah yang jelas akan menyelesaikan masalah.

Acara bincang tersebut mendorong serangkaian kritik di media sosial, di mana anggota masyarakat menuduh program itu terlalu menghakimi dan mengabaikan etika jurnalistik.

"Kita akan berubah menjadi Korea Utara. Jurnalis, jika Anda benar-benar bersemangat akan masa depan anak-anak kita, laporkan tentang sekolah-sekolah di Samarkand yang tak memiliki pemanas, toilet atau bahkan buku pelajaran," keluh seorang warganet yang menonton acara tersebut.

Menteri Shermatov kemudian mengutuk acara yang dihadirinya dua hari sebelumnya lewat Facebook.

"Mempermalukan orang di depan umum tidak dapat diterima dalam masyarakat yang beradab, terutama saat kita berurusan dengan anak-anak," tulisnya.

Dia meminta wartawan untuk berhenti mendiskriminasi guru, salah satu profesi yang minim peminat di Uzbekistan.

"Berhenti mendiskreditkan guru dan menunjukkan rasa hormat, kita sudah kekurangan guru yang baik.'

Serupa dengan keluhan di media sosial, menteri itu menuduh para wartawan justru fokus pada masalah sekunder, sementara masalah utama masih perlu ditangani.


Editor : Nathania Riris Michico