Tanggapi Kritik Iklan Jokowi di Bioskop, Begini Penjelasan Rudiantara

Stefani Patricia ยท Minggu, 16 September 2018 - 14:45 WIB
Tanggapi Kritik Iklan Jokowi di Bioskop, Begini Penjelasan Rudiantara

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rundiantara (Foto: Koran Sindo)

JAKARTA, iNews.id – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rundiantara menegaskan, iklan capaian kinerja pemerintah di bioskop bukan sebagai bentuk kampanye Pilpres 2019. Kepastian itu didapat setelah Kemenkominfo berkonsultasi dengan Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Abhan.

“Tadi malam saya sama Ketua Bawaslu, Ketua Bawaslu juga bilang enggak ada. Tadi malam di televise secara terbuka Ketua Bawaslu bilang tidak ada pelanggaran,” kata Rudiantara di Jakarta, Minggu (16/9/2018).

Menurut Rudiantara, iklan capaian pemerintah sama dengan iklan produk biasa yang ditayangkan di bioskop. Tidak ada unsur kampanye dalam iklan dan tidak menayangkan visi misi maupun program dari salah satu capres.

“Kalau kampanye itu penggalangan secara terorganisir, kampanye politik itu mempengaruhi proses seseorang untuk memilih, itukan tidak ada proses untuk mempengaruhi orang untuk memilih juga tidak ada pengorganisasian. Ada 140 jenis iklan di bioskop. Ini salah satunya kami sisipkan iklan layanan masyarakat,” tutur Rudiantara.

BACA JUGA: Polemik Iklan Jokowi di Bioskop, PKB: Tidak Perlu Dipermasalahkan

Apa yang dilakukan oleh Kemenkominfo, menurut Rudiantara, merupakan peran dan tugas yang sudah diamanahkan kepada kementeriannya untuk menjadi humas pemerintah atau government public relations. Dia menuturkan, menyampaikan hasil kinerja pemerintah kepada masyarakat luas termasuk dalam tugas Kemenkominfo sebagai humas pemerintah.

“Salah satu tugasnya Kominfo adalah bidang komunikasi publik, artinya mengomunikasikan progres dari pembangunan, progres dari program pemerintah. Programnya banyak tapi ada beberapa yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, seperti infrastruktur, kesehatan KIS, pendidikan KIP, tol laut, jalan tol, dan sebagainya. Nah pemerintah ini menginformasikan ke publik karena ini bagian dari pertanggungjawaban. Kan kementerian setiap tahun ada APBN, itu dipakai, apa hasilnya,” ujar dia.

Rudiantara mengatakan, bioskop dipilih sebagai salah satu media penayangan iklan layanan pemerintah karena jumlah penonton semakin banyak. Tercatat, penonton bioskop saat ini mencapai 150 juta orang per tahun. Angka itu meningkat hampir dua kali lipat dari 2014 yang hanya 96 juta penonton.

“Mengapa masuk ke bioskop? Karena tahun 2014 jumlah layar di Indonesia itu kurang dari 1.000 sekitar 970. Sekarang sudah hampir 1.700. Penontonnya juga dari 96 juta kalau tidak salah, itu perkiraannya tahun ini 150 juta. Jadi banyak orang nonton bioskop,” kata Rudiantara.


Editor : Khoiril Tri Hatnanto