Rakyat Bicara: Indahnya Toleransi di Timor Leste

Ahmad Islamy Jamil, iNews ยท Selasa, 10 April 2018 - 06:07 WIB
Rakyat Bicara: Indahnya Toleransi di Timor Leste

Peta wilayah Timor Leste dan Indonesia (ilustrasi). (Foto: Worldatlas.com)

HAMPIR dua dasawarsa sudah, Timor Timur melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejak digelarnya referendum pada 1999, mayoritas rakyat di daerah eks jajahan Portugis itu memilih untuk mengambil jalan mereka sendiri, alih-alih meneruskan bernaung di bawah Sang Merah Putih.  Alhasil, pada 20 Mei 2002, Timor Timur pun resmi menjadi negara merdeka.

Kini, bekas provinsi ke-27 Indonesia itu lebih dikenal dengan nama Republik Demokratik Timor Leste alias Timor Lorosae. Setelah belasan tahun berlalu, rekonsiliasi yang terbangun pascakonflik 1999 semakin mendewasakan rakyat di negara baru tersebut. Sebagai buktinya, mereka kini bisa hidup dalam suasana penuh kerukunan dan toleransi.

Yang lebih menarik lagi, warga negara Indonesia (WNI) yang menetap di Timor Leste juga memperoleh kebebasan dalam banyak hal. Mulai dari urusan mencari makan, hingga urusan ibadah. Seperti diungkapkan Anto, misalnya. Lelaki asal Makassar, Sulawesi Selatan itu mengaku sudah 13 tahun tinggal di Kampung Alor, Kota Dili, Timor Leste. Di situ, dia mengelola usaha grosir yang diwariskan orang tuanya sejak 2004.

“Ada sekitar 10 orang Indonesia yang jadi pedagang grosir seperti saya di Dili ini,” ujarnya kepada iNews, saat ditemui di Dili, belum lama ini.

Anto mengatakan, selama menetap di kota itu, dia tidak pernah sekali pun mendapat gangguan dari penduduk pribumi setempat. Bahkan, dia memastikan keamanan bagi kaum pendatang di Dili sangat terjamin. “Sampai saat ini, enggak ada intimidasi dari warga sini. Malah kalau terjadi apa-apa (situasi tidak aman), orang sini sendiri yang kasih tahu ke saya agar selalu berhati-hati. Jadi, mereka lindungi kami (WNI) juga di sini,” ungkap pria itu.

Menurut catatan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kota Dili, jumlah WNI yang berdiam di Timor Leste saat ini mencapai lebih dari 6.000 jiwa. Mayoritas datang dari Jawa dan Makassar. Sementara, jumlah badan hukum Indonesia (BHI) yang memiliki kegiatan usaha di negeri mungil itu sebanyak 1.049 buah.

Warga negara Indonesia (WNI) di Timor Leste menggelar proses pemungutan suara pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2014. (Foto: kemlu.go.id/Dok)


Oleh masyarakat Timor Leste, kata Anto, relasi mereka dengan WNI kini tak lagi dianggap sebagai hubungan antara “bekas bangsa yang dijajah” dan “eks bangsa penjajah”. Melainkan lebih tepat disebut hubungan sesama saudara serumpun. Karenanya, tidak mengherankan jika WNI dan penduduk asli di sana dapat berbaur dengan mudah.

Anto menuturkan, sejak zaman Timor Timur masih berintegrasi dengan Indonesia, hubungan antara WNI dan warga lokal sebetulnya berjalan harmonis dan nyaris tidak pernah mengalami benturan. “Yang bermasalah justru orang-orang yang terlibat di dunia politik (antara pendukung integrasi dan prokemerdekaan—red) saja. Kami para pedagang di sini tidak ada masalah apa-apa,” ucapnya.

Dia pun memuji toleransi antarumat beragama yang terbangun di Timor Leste hari ini. Sebab, penduduk mayoritas Nasrani di sana memberikan penghargaan dan penghormatan yang tinggi kepada umat Islam.  Bahkan, saat Lebaran (Hari Raya Idul Fitri) tiba, masyarakat Katolik biasanya ikut membantu menjaga keamanan dan ketertiban selama penyelenggaraan salat Id.  

“Budaya saling menghargai masyarakat di sini bagus sekali. Sebagai pembanding, di Singapura itu, kalau orang azan (di masjid) tidak boleh pakai pengeras suara. Tapi di Timor Leste ini bebas saja. Kami juga bebas berjalan pakai (busana) apa saja, mau pakai serban atau yang lain, tidak ada soal,” kata Anto.   

Menurut sensus 2015, penduduk Timor Leste berjumlah 1.167.242 jiwa. Katolik adalah agama mayoritas dengan jumlah pemeluk mencapai 96 persen, disusul Kristen sebanyak 2,2 persen, dan Islam hanya 0,3 persen. Sementara, Association of Religion Data Archives (ARDA) melaporkan bahwa populasi muslim di negara itu mencapai 3,6 persen.

Salah seorang penduduk muslim Timor Leste, Muhammad Iqbal Menezes mengungkapkan, pemerintah di negaranya sangat menjaga hubungan baik dengan umat Islam. Sejak daerah bekas koloni Portugis itu meraih kemerdekaannya pada 2002, belum pernah sekali pun terjadi praktik diskriminasi terhadap kelompok pemeluk agama minoritas, termasuk Islam.

Dia mengisahkan, pada satu kesempatan, presiden pertama Timor Leste Xanana Gusmao pernah berkunjung ke beberapa panti asuhan yang dikelola komunitas muslim Dili. Di hadapan para penghuni panti, sang presiden menahbiskan diri sebagai kakek bagi anak-anak yatim tersebut. “Jadi, hubungan kami (umat Islam) dengan pemerintah sangat dekat. Sebagai pribumi muslim, saya pun merasa sangat nyaman tinggal di sini, ” ujar Iqbal.

Tidak hanya itu, Pemerintah Timor Leste bahkan juga memberikan bantuan dana untuk pembebasan lahan pembangunan panti asuhan milik yayasan Islam setempat. Menurut Iqbal, fakta tersebut sekaligus menjadi bukti komitmen negaranya menghargai keberadaan kaum muslim.



Lelaki asal Distrik Viqueque itu menuturkan, rekonsiliasi yang terjalin antara Timor Leste dan Indonesia telah membuahkan hasil positif bagi kedua negara. Saat ini, WNI telah masuk ke hampir semua 13 distrik di negeri itu. Mereka tidak sekadar mencari nafkah di situ, melainkan juga ikut membantu kegiatan pembangunan yang diadakan oleh pemerintah setempat.

“Untuk sekadar diketahui, gedung tertinggi di Timor Leste pertama itu dibangun oleh BUMN Indonesia. Jadi, segitu tingginya kepercayaan pemerintah dan masyarakat Timor Leste kepada bangsa Indonesia. Keadaan seperti ini membuat kami merasa ikut senang,” tutur Iqbal.

Pribumi muslim Timor Leste lainnya, Muhammad Ramadan mengatakan, kegiatan syiar Islam di negerinya sampai hari ini berjalan dengan baik dan tanpa gangguan. Itu bisa terwujud lantaran masyarakat di sana sangat menjunjung tinggi kebebasan beragama. “Kami sudah pergi (berdakwah) ke mana-mana, keliling hampir ke seluruh Timor Leste. Alhamdulillah, tidak ada masalah,” ucapnya.

Dia menuturkan, Masjid an-Nur yang terletak di Kampung Alor menjadi saksi bisu tingginya penghormatan masyarakat Timor Leste terhadap Islam. Ketika negeri itu dilanda krisis pada 1999, banyak rakyat mengungsi dan mencari perlindungan ke tempat ibadah tersebut. Mereka yang mengungsi ke Masjid an-Nur kala itu tidak hanya berasal dari kalangan muslim, tapi nonmuslim juga.

“Saat itu, kekacauan dan pembunuhan terjadi di mana-mana. Namun, mereka yang berada di dalam masjid (an-Nur) aman. Di sini rumah ibadah memang sangat dihormati,” ungkap Ramadan.  

Tingginya toleransi antarumat beragama di Timor Leste juga diakui oleh Grace Gunawan. WNI yang kini menekuni bisnis rumah makan dan peternakan ayam petelur di Kota Dili itu mengatakan, kelompok minoritas di sana mendapat hak politik yang sama dengan warga mayoritas. “Bahkan, perdana menteri Timor Leste yang terpilih sekarang (Mari Alkatiri) adalah seorang Muslim,” ujar perempuan berdarah Jawa itu. 


Di balik suasana kehidupan sosial masyarakatnya nan harmonis, Timor Leste ternyata juga menjadi ladang usaha cukup menggiurkan bagi kaum pendatang. Mulai dari bisnis pertanian, makanan, hingga infrastruktur. Salah satu alasannya adalah karena persaingan usaha di negeri itu masih belum terlalu ketat seperti Indonesia. Kondisi itu pula yang lantas mendorong Grace memilih untuk menetap dan menjalankan usahanya di Dili sejak 2010.

“Peluang bisnis di Dili sangat bagus. Sebagai gambaran, kami orang Indonesia dan tinggal di Indonesia dengan mata uang rupiah. Sementara, di (Dili) sini kami punya bisnis dengan mata uang dolar (USD). Dari situ saja udah bikin beda,” katanya.

Jurnalis senior Timor Leste, Salvador Soares, membenarkan banyaknya pengusaha dan BUMN asal Indonesia yang berkiprah di negaranya. Bahkan, tidak sedikit pula bekas pejabat pemerintah Indonesia di zaman integrasi Timor Timur (1976–1999) yang kini berkecimpung di dunia birokrasi Timor Leste. Menurut dia, semua itu bisa terjadi karena sudah tidak ada lagi hambatan psikologis masa lalu antara orang Timor Leste dan orang Indonesia.

“Bahkan, rekonsiliasi yang dibangun Timor Leste dengan Indonesia ini juga dijadikan contoh oleh Pak Xanana Gusmao kepada dunia, mulai Afrika, Amerika Selatan, dan daerah-daerah konflik lain,” ujar Salvador. Semoga kerukunan dan kedamaian di bumi Timor Lorosae selalu terawat di masa mendatang. ***


Editor : Ahmad Islamy Jamil