Miras Oplosan, Jalan Pintas Menuju Kuburan

MNC Media ยท Rabu, 11 April 2018 - 06:07 WIB
Miras Oplosan, Jalan Pintas Menuju Kuburan

Korban meninggal dunia akibat menenggak minuman keras (miras) oplosan di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Jabar) terus bertambah. (Foto: iNews/Mujib Prayitno)

KORBAN akibat konsumsi minuman keras (miras) oplosan kembali berjatuhan di Tanah Air. Selama sepekan belakangan, kabar tentang mereka yang meregang nyawa usai menenggak cairan maut itu pun kian marak mengisi pemberitaan di berbagai media massa dalam negeri.

Menurut data terakhir yang dihimpun iNews.id, jumlah korban tewas akibat miras oplosan di Jawa Barat sejak pekan pertama April hingga kemarin tercatat sebanyak 41 jiwa. Perinciannya, 31 orang di antaranya berasal dari Cicalengka, Kabupaten Bandung; empat orang dari Kota Bandung, dan; enam orang dari Kabupaten Sukabumi.

Sementara, laporan per Kamis, 5 April 2018 menyebutkan bahwa jumlah korban meninggal karena miras oplosan di wilayah Jadetabek (Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi) mencapai 31 jiwa. Perinciannya, delapan orang berasal dari Jakarta Selatan; 10 orang dari Jakarta Timur; enam orang dari Kota Depok, dan; tujuh orang dari Kota Bekasi.

Dengan begitu, jumlah korban tewas seluruhnya di Jawa Barat dan DKI Jakarta yang terdata hingga kemarin adalah 72 jiwa. Di luar itu, masih ada puluhan korban lainnya tengah menjalani perawatan di rumah sakit karena keracunan miras campuran.


Di Indonesia, kasus kematian akibat konsumsi miras oplosan bisa dikatakan terjadi setiap tahun. Namun, korban tewas yang berjatuhan di tahun ini termasuk paling banyak dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Berdasarkan catatan kepolisian, semua korban tersebut menemui ajal setelah mengonsumsi jenis minuman yang sama, yaitu “ginseng”.

Ginseng yang dimaksud di sini sejatinya bukanlah tanam herbal dari Asia Timur yang kerap digunakan dalam dunia pengobatan alternatif. Melainkan sekadar istilah yang dipakai untuk menyebut campuran etanol, metanol, sirup, dan minuman bersoda. Kombinasi dari ragam cairan itulah yang diminum para korban sehingga kemudian berujung maut.

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Metro Jakarta Selatan, Kombes Pol Indra Jafar mengatakan, berdasarkan hasil autopsi terhadap jenazah para korban, miras oplosan yang merenggut nyawa mereka positif mengandung metanol. Zat tersebut diketahui sangat beracun dan mematikan.

“Dari hasil autopsi dan penelitian Puslabfor (Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri—red), cairan yang masuk dalam tubuh korban positif mengandung metanol. (Zat) itu memang (memberikan efek) mematikan bagi yang mengonsumsinya,” kata Indra di Jakarta, Senin 9 April 2018.

BACA JUGA:

Bandung KLB Miras Oplosan, Jumlah Korban Tembus 141 Orang

Korban Tewas Miras Ginseng Oplosan di Jakarta Timur Jadi 13 Orang

Perempuan Muda di Sumedang Ini Tewas Usai Pesta Miras Oplosan


Dia menjelaskan, efek keracunan akibat menenggak cairan metanol dapat dilihat dari beberapa gejala. Di antaranya berupa tergganggunya fungsi paru-paru atau pernapasan pada tubuh korban. Tak hanya itu, kata Indra, paru-paru korban bahkan bisa menjadi tidak berfungsi, sehingga menyebabkan yang bersangkutan mati lemas.

“Itu hasil dari autopsi. Artinya, dari toksikologi (ilmu tentang zat beracun yang berbahaya) juga, ada kesesuaian hasilnya di sana,” ujarnya.

Indra menduga miras oplosan yang dikonsumsi para korban—baik yang di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Depok, maupun Bekasi—berasal dari satu penjual berinisial RS. Tersangka RS telah dibekuk polisi pada Selasa 3 April 2018 di Jalan Haji Shibi, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan.


Peredaran miras oplosan di Indonesia memang kian memprihatinkan. Setiap tahun, minuman beralkohol itu memakan korban tanpa pandang umur. Yang lebih bikin miris lagi, korban tewas akibat miras oplosan juga berasal dari kalangan remaja. Seperti kasus yang terjadi di Depok, misalnya. Semua korban meninggal yang tercatat di sana pada awal April lalu berusia antara 17–18 tahun.

Dari waktu ke waktu, peminat alkohol remaja di Indonesia semakin meningkat. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar menemukan pada 2007, jumlah remaja pengonsumsi alkohol berada di angka 4,9 persen. Pada 2014, angka tersebut meningkat menjadi 23 persen dari total 63 juta remaja Indoensia saat ini.

Pemberlakukan kebijakan larangan peredaran minuman beralkohol di minimarket tak serta-merta mampu mencegah penyalahgunaan alkohol di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Faktanya, bahan baku alkohol yang mudah dan murah didapat, serta tersebarnya penyedia miras oplosan berkedok warung membuat minuman beracun itu gampang dibeli.

Menurut informasi yang dihimpun iNews.id, harga satu botol atau satu kantung plastik miras ginseng dibanderol hanya Rp20.000 oleh penjualnya. Sementara, jika dibandingkan dengan minuman beralkohol tinggi (kadar 40 persen ke atas) yang dijual di tempat-tempat resmi, harganya sangatlah mahal yaitu bisa ratusan ribu bahkan jutaan rupiah per botol.

Di sini hukum ekonomi pun berlaku. Dengan modal sekecil-kecilnya, para pengoplos miras berusaha memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Karena ingin mengejar efek memabukkan yang sama dengan minuman-minuman mahal tersebut, mereka nekat mencampurkan bahan berbahaya macam metanol ke dalam minuman racikannya. Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Para konsumen miras oplosan—yang rata-rata berasal dari kalangan berpenghasilan menengah ke bawah—akhirnya harus masuk rumah sakit. Sebagian dari mereka bahkan kini beristirahat di liang lahat.


Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mataram NTB, Dokter Raehanul Bahraen mengatakan, banyak kalangan awam yang salah kaprah ketika membedakan alkohol dengan minuman beralkohol. Salah kaprah itu pula yang kemudian membuat sebagian masyarakat menyamaratakan semua jenis alkohol dengan “zat yang memabukkan”. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian.

Dia menjelaskan, ada beragam jenis alkohol yang beredar di pasaran. Di antaranya berupa etanol denat yang sering digunakan sebagai bahan baku pembuatan parfum. Alkohol jenis ini, kata Raehan, tidak bersifat memabukkan. Selain itu, ada lagi alkohol dalam bentuk metanol alias spiritus (CH3OH) yang kerap dipakai sebagai bahan bakar. Sementara, alkohol yang banyak dipakai dalam dunia medis adalah jenis etanol (C2H5OH).

“Kalau ‘minuman beralkohol’ itu (sifatnya) memabukkan. Tapi, kalau alkohol itu merusak dan bisa mematikan kalau diminum. Contohnya adalah alkohol 70 persen untuk disinfektan. Kalau itu diminum, bisa merusak tubuh bahkan bisa menyebabkan kematian,” ujar Dokter Raehan dalam satu kajian ilmiah yang digelar di Masjid al-Hidayah Pancoran, Jakarta Selatan, belum lama ini. ***


Editor : Ahmad Islamy Jamil