Rusia Dituduh Hilangkan Barang Bukti Senjata Kimia di Suriah

Anton Suhartono · Senin, 16 April 2018 - 19:29 WIB

Kantor OPCW di Den Haag, Belanda (Foto: AFP)

MOSKOW, iNews.id – Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov membantah pihaknya mencampuri proses penyelidikan di Douma, Suriah, terkait penggunaan senjata kimia oleh rezim Bashar Al Assad.
Tim ahli dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) sudah berada di Suriah, namun dilarang masuk ke Douma.

"Saya bisa menjamin bahwa Rusia tidak merusak lokasi," kata Lavrov, dikutip dari BBC, Senin (16/4/2018).

Lavrov kembali membantah penggunaan senjata kimia dalam serangan di Douma, Ghouta Timur, pada 7 April lalu.

Baca Juga:

WHO Sebut 500 Pasien di Suriah Alami Gejala Terpapar Zat Kimia

Rusia Janji Tak Ikut Campur Penyelidikan Dugaan Gas Beracun di Suriah

"Saya tidak bisa sopan dengan para pemimpin negara lain. Tapi Anda mengutip pernyataan para pemimpin Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat. Terus terang, semua bukti yang mereka katakan berdasarkan pada laporan media dan media social," kata Lavrov, kepada BBC.

Pernyataan ini disampaikan Lavrov terkait kesulitan tim OPCW mengakses Douma serta rapat darurat organisasi yang berbasis di Den Haag, Belanda, tersebut.

Pertemuan darurat digelar tertutup hari ini. Namun dubes AS untuk OPCW, Kenneth Ward, membocorkan, organisasi mencurigai pasukan Rusia di Douma telah merusak barang bukti terkait tuduhan penggunaan senjata kimia.

Sementara itu Dubes Inggris di OPCW, Peter Wilson, mengutip pernyataan dari kepala organisasi, mengatakan, pihaknya masih menunggu sampai diizinkan masuk Douma.

Dugaan penggunaan senjata kimia di Douma di antaranya disebutkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menerima informasi bahwa sekitar 500 pasien mengalami gejala keracunan zat kimia usai serangan Sabtu 7 April.


Editor : Anton Suhartono

KOMENTAR