Cerita Stephen Hawking Melawan Penyakit ALS hingga Meninggal Dunia

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 14 Maret 2018 - 13:02:00 WIB
Cerita Stephen Hawking Melawan Penyakit ALS hingga Meninggal Dunia
Stephen Hawking (Foto: AFP)

LONDON, iNews.id - Stephen William Hawking berhasil menginspirasi dunia karena kejeniusannya di tengah kondisi fisik yang terbatas. Wajar bila kepergiannya di usia 76 tahun meninggalkan duka bagi banyak orang, khususnya dunia sains.

Hawking pernah diramalkan tak akan berumur panjang karena penyakit langka yang dideritanya pada 1964. Namun, dia berhasil membuktikan, bahwa penyakit tidak bisa menghentikannya berkarya.

Stephen Hawking didiagnosis menderita sklerosis lateral amyotrophic (ALS, atau penyakit Lou Gehrig) pada usia 21 tahun. Dalam arti sederhana, penyakit ini membuat saraf yang mengendalikan ototnya mati atau berhenti berfungsi secara total.

Pada saat itu, dokter menyebutnya hanya memiliki waktu 2,5 tahun untuk hidup.

Hawking pertama kali memperhatikan masalah kesehatan saat berkuliah di Oxford. Di beberapa kesempatan dia tersandung dan jatuh, atau sulit berbicara dengan jelas. Hawking tidak menyadari soal kondisi tubuhnya selama tahun pertamanya di Cambridge atau pada 1963.

Selama beberapa waktu, Hawking merahasiakan penyakitnya. Tapi suatu saat sang ayah mengetahui lalu membawa Hawking ke dokter.

Selama dua pekan berikutnya, Hawking membuat rumahnya seperti sebuah klinik medis, karena dia harus menjalani serangkaian tes.

"Mereka mengambil sampel otot dari lengan saya, memasukkan elektroda ke dalam tubuh saya, dan menyuntikkan cairan radio-opaque ke tulang belakang, dan memerhatikannya naik-turun dengan sinar-X, saat mereka memiringkan tempat tidur," kata Hawking.

"Setelah semua tes itu, mereka tidak memberi tahu saya apa yang saya derita, kecuali bahwa itu bukan multiple sclerosis, dan bahwa kondisi saya adalah kasus yang tidak lazim," kata dia.

Akhirnya, dokter mendiagnosis Hawking menderita ALS tahap awal. Ini menjadi kabar buruk baginya dan keluarga. Namun hal ini tak membuatnya terpuruk.

Saat dirawat di rumah sakit dia berbagi kamar dengan seorang anak laki-laki penderita leukemia.  Dari situ dia merenung bahwa situasinya tak lebih buruk dari temannya. Dia mengatakan, masih banyak mimpi dan hal lain yang bisa dia lakukan dalam hidupnya.

Dengan kata lain, Hawking justru terbantu dengan penyakitnya untuk menjadi ilmuwan terkenal. Sebelum didiagnosis, Hawking bahkan tidak fokus pada studinya.

"Sebelum saya didiagnosis, saya sangat bosan dengan kehidupan saya. Sepertinya tidak ada yang perlu dilakukan," demikian pengakuan Hawking.

Dia sempat berpikir tidak memiliki cukup waktu untuk mendapatkan gelar PhD karena penyakitnya, Hawking pun memfokuskan diri untuk membuat karya dan meneliti.

Karena kontrol tubuhnya berkurang, Hawking terpaksa menggunakan kursi roda sejak 1969. Seiring berjalannya waktu, karier Hawking terus berkembang namun di saat bersamaan keadaan fisik terus memburuk.

Menjelang pertengahan 1970-an, keluarga mengambil alih salah satu program pascasarjana Hawking agar dia bisa fokus pengobatan. Hawking masih bisa makan dan bangun dari tempat tidur sendiri, namun selain aktivitas itu dia memerlukan bantuan orang lain.  

Selain itu, ucapannya menjadi semakin tidak jelas, sehingga hanya mereka yang mengenalnya saja baik, bisa memahami perkataannya Pada 1985, dia kehilangan suara untuk selamanya, diikuti dengan penyakit tracheotomy.

Situasi ini membuat Hawking harus dalam perawatan 24 jam.

Hal ini juga membahayakan Hawking untuk melakukan pekerjaannya. Keadaan sulit ini menarik perhatian seorang programmer komputer California, yang mengembangkan program berbicara yang bisa diarahkan oleh gerakan kepala atau mata.

Penemuan ini memungkinkan Hawking untuk memilih kata-kata di layar komputer yang kemudian diprogram melalui synthesizer. Pada saat diperkenalkan, Hawking, yang masih bisa menggunakan jemarinya, memilih kata-kata yang akan diucapkan menggunakan alat yang digenggam.

Saat hampir semua kendali atas tubuhnya hilang, Hawking mengarahkan program melalui otot pipi yang menempel pada sensor.

Melalui program tersebut, dan bantuan asisten, Hawking terus menulis dengan kecepatan tinggi. Karyanya telah menembus banyak makalah ilmiah.

Kesehatan Hawking, tentu saja, tetap menjadi perhatian dunia. Kekhawatiran meningkat pada 2009 ketika dia gagal tampil di sebuah konferensi di Arizona karena infeksi dada.

Pada April 2017, Hawking, yang mengumumkan bahwa dia pensiun setelah 30 tahun menjabat profesor Matematika Lucasian di Cambridge, dilarikan ke rumah sakit. Saat itu, dunia berharap agar dia bisa pulih.

Takdir Hawking tiba, dia meningga dunia pada Rabu (14/3/2018). Kabar duka itu datang dari keluarganya.

"Kami sangat sedih karena ayah tercinta kami meninggal dunia hari ini," demikian pernyataan anak mendiang, Lucy, Robert, dan Tim.

Meski pergi, namun seluruh karya Hawking dan kontribusinya dalam dunia sains akan dikenang sepanjang masa.

Editor : Masirom Masirom