Kartini Perindo Usul Tanggap Bencana Masuk Kurikulum Sekolah

Vendi Y Susanto ยท Sabtu, 13 Oktober 2018 - 10:49 WIB
Kartini Perindo Usul Tanggap Bencana Masuk Kurikulum Sekolah

Wakil Ketua Umum DPP Kartini Perindo Ratih Gunaevy. (Foto: Okezone)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

JAKARTA, iNews.id – Kartini Perindo mengusulkan kepada pemerintah untuk memasukkan tanggap bencana ke dalam kurikulum pendidikan agar bisa dipelajari siswa di sekolah. Wakil Ketua Umum DPP Kartini Perindo Ratih Gunaevy mengatakan, kebijakan itu diperlukan mengingat belakangan ini kerap terjadi gempa bumi yang melanda beberapa daerah di Indonesia.

Bidang studi tanggap bencana tersebut, menurut dia, tidak hanya berisi pengetahuan mengenai gempa bumi, melainkan juga tentang tsunami, banjir, dan bencana lain yang berpotensi terjadi di Indonesia. “Kurikulum tanggap bencana tidak cukup hanya gempa saja. Tetapi tentang tanggap bencana lain seperti banjir, puting beliung, tsunami, tanah longsor, kebakaran hutan dan sebagainya,” ucap Ratih saat dihubungi, Jumat (12/10/2018).

Selain anak-anak, lanjut Ratih, pengetahuan mengenai mitigasi bencana perlu juga diberikan kepada kaum dewasa. Sekalipun selama ini, orang-orang dewasa telah mendapatkan pelajaran mengenai kondisi geografis Indonesia yang berpotensi menyebabkan bencana alam sejak sekolah dasar.

“Penting sekali anak-anak bahkan orang dewasa sekalipun untuk mendapat pengetahuan tentang mitigasi bencana,” ucapnya.

Ratih berharap Indonesia dapat belajar dari Jepang. Negara matahari terbit itu telah mempersiapkan kemungkinan terjadinya bencana alam seperti gempa bumi kepada anak-anak karena menyadari potensi bencana yang dapat terjadi kapan saja. Begitu pun Indonesia yang wilayahnya dikelilingi gunung api di mana potensi bencana gempa bumi sewaktu-waktu dapat terjadi.

“Indonesia adalah negara kepulauan dan dikelilingi oleh gunung merapi aktif, sehingga gunung merapi menyebabkan gempa vulkanik, dan pergeseran lempeng menyebabkan gempa tektonik. Contohnya seperti yang terjadi di Palu yang disebabkan oleh aktivitas sesar aktif pada zona sesar Palu Koro,” tuturnya.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga 14 September 2018 telah terjadi 1.227 kejadian bencana alam. Dari jumlah tersebut mengakibatkan 124 korban meninggal dan hilang, 499 luka-luka, dan 777.202 ribu masyarakat terdampak dan mengungsi. Jumlah ini belum termasuk korban gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan Sigi yang terjadi pada 28 September 2018 lalu.


Editor : Ahmad Islamy Jamil