Kisruh Harga BBM, PKB Sebut Jokowi Sibuk Acara IMF dan World Bank

Aditya Pratama ยท Sabtu, 13 Oktober 2018 - 18:34 WIB
Kisruh Harga BBM, PKB Sebut Jokowi Sibuk Acara IMF dan World Bank

Anggota Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Razman Arif Nasution. (Foto: Koran Sindo).

JAKARTA, iNews.id - Tim Kampanye Nasional Capres dan Cawapres Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin menepis adanya penilaian komunikasi di internal pemerintah buruk. Sebaliknya, penilaian tersebut sengaja diciptakan oleh tim Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno agar seolah-olah komunikasi antarapresiden dan menteri tidak berjalan normal.

Anggota Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Razman Arif Nasution mengatakan, sempat adanya perbedaan sikap di internal kabinet mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) karena Jokowi sedang sibuk. Saat ini Jokowi sedang fokus mengikuti acara organisasi internasional yang di Bali.

"Beliau (Jokowi) sedang sibuk IMF dan World Bank di Bali maka dalam hitung-hitungan menteri-menteri itu diberikan kewenangan A dan kewenangan B. Tapi jangan lupa kewenangan itu ada yang namanya koordinatif," ujar Razman dalam acara diskusi Polemik Radio MNC Trijaya Network bertajuk, BBM dan Situasi Kita di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (13/10/2018).

BACA JUGA:

Polemik Harga BBM, Komunikasi Internal Pemerintah Dinilai Buruk

Menteri Rini yang Minta Jonan Tunda Kenaikan Harga Premium

Koordinator Bidang Hukum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menuturkan, ketika Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengumumkan kenaikan harga BBM premium karena BBM yang disusidi hanya solar. Sementara di luar harga solar merupakan tanggung jawab PT Pertamina.

"Nah bagaimana fluktuatif harga itu yang disesuaikan. Sekarang Pak Jokowi melihat setelah mempertimbangkan ada masukan, apa salahnya kemudian itu dibatalkan pemerintah," tuturnya.

Menurutnya, wajar jika antarmenteri berbeda pandangan. Ignasius Jonan kata dia mungkin awalnya telah koordinasi dengan Jokowi sebelum mengumumkan kenaikan harga BBM. Namun, bisa saja ada masukan kembali setelah pengumuman kenaikan harga BBM dilakukan.

"Ini bukan komunikasi yang buruk, bukan manajemen yang tidak baik, di dalam kita biasa saja. Yang paling pokok adalah presiden itu masih memegang kekuasaan penuh yang bahaya presiden tidak berempati pada rakyatnya," ucapnya.


Editor : Kurnia Illahi