Mengintip Penerbangan Terlama di Dunia dengan Singapore Airlines

Nathania Riris Michico ยท Minggu, 14 Oktober 2018 - 09:21 WIB
Mengintip Penerbangan Terlama di Dunia dengan Singapore Airlines

Airbus mengubah sistem bahan bakar pesawat A350-900 sehingga memungkinkan jangkauan penerbangan yang lebih jauh dan perubahan nama A350-900 ULR (ultra long range). (Foto: Airbus)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

SINGAPORE, iNews.id - Sebuah pesawat jet Airbus mendarat di Newark, Amerika Serikat (AS) pada Jumat (12/10) setelah melakukan penerbangan selama hampir 18 jam dari Singapura dan merampungkan penerbangan komersial terpanjang dunia.

Dilaporkan Newark Liberty International Airport, penerbangan SQ22 Singapore Airlines itu tiba pukul 05.29 waktu setempat. Pesawat ini membawa 150 penumpang dan 17 kru, menjelajahi jarak 16.500 kilometer.

Singapore Airlines meluncurkan kembali layanan ini setelah lima tahun lalu dipandang terlalu mahal.

Penerbangan perdana dari Bandara Changi ke Bandara Newark, yang juga mencakup New York, lepas landas tanpa pemberitaan besar.

Baca juga: Daftar Penerbangan Pesawat Komersial Terlama di Dunia, Rekor 19 Jam

Singapore Airlines menyatakan kepada para penumpang sebelum berangkat, penerbangan ke Newark, yang meskipun merupakan yang terjauh di dunia berdasarkan jarak, hanya akan memakan waktu sekitar 17 jam.

Qantas meluncurkan layanan tanpa-henti 17 jam dari Perth ke London pada awal tahun ini, sementara Qatar menawarkan layanan 17,5 jam antara Auckland dan Doha.

Singapore Airlines (SIA) menyatakan terdapat permintaan dari pelanggan bagi layanan nonstop yang membantu pengurangan durasi perjalanan jika dibandingkan dengan penerbangan tidak langsung.

Sebelum lepas landas, maskapai tersebut mengatakan kepada BBC, kursi kelas bisnis dalam penerbangan itu habis dipesan dan terdapat kursi dalam jumlah sangat terbatas di kelas ekonomi.

Maskapai itu tidak berencana menawarkan pesanan kelas ekonomi dalam jalur ini.

Baca juga: Singapore Airlines Memulai Penerbangan Terlama di Dunia ke New York

Tiket kelas bisnis memberikan penumpangnya dua kali jatah makan namun waktu penyuguhannya ditentukan penumpang sendiri, ditambah minuman segar, di antaranya. Penumpang juga mendapatkan tempat tidur.

Tiket ekonomi premium mendapatkan tiga porsi makanan pada waktu yang ditentukan, termasuk minuman segar.

Pesawat Airbus baru yang digunakan SIA ini diubah untuk 161 penumpang, 67 kursi bisnis dan 94 penumpang ekonomi premium.

"Alasannya adalah mereka menjual produk premium, untuk pasar atas," kata ahli penerbangan, Geoffrey Thomas, yang memesan tiket untuk penerbangan tersebut.

"Ini merupakan jalur di antara dua pusat keuangan besar dan mereka akan mengisinya dengan para pengusaha atau penumpang kaya yang menginginkan kenyamanan penerbangan tanpa henti. Juga sudah terbukti ketika maskapai memperkenalkan jalur tanpa henti, lalu lintasnya berlipat tiga kali."

Thomas, pemimpin redaksi situs pemeringkat maskapai Airlineratings.com, sudah beberapa kali ikut dalam penerbangan perdana sejenis, termasuk penerbangan jarak jauh Perth-London yang diluncurkan permulaan tahun ini.

"Penerbangan Qantas ke London adalah peristiwa besar. Kami bisa dikatakan berdiri sepanjang penerbangan, benar-benar menakjubkan. Suasananya seperti pesta di dalam pesawat," ujarnya.

Sementara itu, Qantas masih terus berunding dengan Airbus dan Boeing terkait dengan pesawat yang dapat melakukan penerbangan 20 jam antara London dan Sydney.

Maskapai nasional Australia itu juga merencanakan penerbangan nonstop dari Australia ke Amerika Utara, sedikit lebih pendek dibandingkan penerbangan tanpa henti London-Sydney.

Tetapi Max Kingsley-Jones, redaktur Flight Global, memperingatkan rencana jalur nonstop biasanya akan berubah sesuai dengan keadaan ekonomi dunia.


Editor : Nathania Riris Michico