Merger FCA dan Renault Tersandung Nissan

Dani M Dahwilani ยท Senin, 10 Juni 2019 - 18:15 WIB
Merger FCA dan Renault Tersandung Nissan

Upaya merger Fiat Chrysler Automobiles (FCA) NV dan Renault SA masih harus mendapat persetujuan dari mitra aliansi Nissan Motor Co Ltd. (Foto: WXYZ Detroit)

PARIS, iNews.id - Fiat Chrysler Automobiles (FCA) NV dan Renault SA dilaporkan tengah mencari jalan keluar mewujudkan rencana merger kedua perusahaan induk. Namun, rencana mereka masih harus mendapat persetujuan dari mitra aliansi Renault, Nissan Motor Co Ltd.

Dilansir dari Reuters, Senin (10/7/2019), menurut sumber, Nissan siap mendukung ikatan FCA-Renault dengan imbalan Renault bersedia mengurangi 43,4 persen sahamnya di perusahaan Jepang tersebut. Banyak yang pesimis kesepakatan yang kompleks dan penuh politik ini berhasil.

Pada 6 Juni lalu, Ketua FCA John Elkann tiba-tiba menarik tawaran mergernya sebesar 35 miliar dolar AS setelah pemerintah Prancis, pemegang saham terbesar Renault, memblokir suara dewan dan meminta banyak waktu untuk mendapat dukungan dari Nissan. Ini setelah perwakilan Nissan menyatakan akan abstain.

Seperti diketahui, hubungan Renault dan Nissan, telah berubah sejak penangkapan mantan ketua aliansi mereka Carlos Ghosn pada November lalu. Di mana Ghosn saat ini tengah menunggu persidangan di Jepang atas tuduhan pelanggaran keuangan.

FCA (gabungan brand Italia-Amerika) meliputi Fiat, Jeep, RAM, Alfa Romeo dan Maserati - sejauh ini mengabaikan saran pejabat Prancis atas proposal mergernya untuk ditinjau kembali.

Sejak gangguan itu, Elkann dan mitranya dari Prancis Jean-Dominique Senard telah bertemu untuk menghidupkan kembali rencana, yang membuat Ketua Renault dan Chief Executivenya Thierry Bollore optimistis dengan prospek tersebut.

CEO Nissan Hiroto Saikawa secara konsisten meminta kepemilikan saham aliansi perlu penyeimbangan kembali untuk mencerminkan ukuran superior Nissan. Dia mendesak pengurangan saham Renault sebagai bagian dari perjanjian. Di mana 15 persen saham Nissan di Renault membuatnya tidak memiliki hak suara.


Editor : Dani Dahwilani